Selasa, 29 Mei 2012

MALNUTRISI


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Defisiensi gizi dapat terjadi pada anak yang kurang mendapatkan masukan makanan dalam waktu lama. Istilah dan klasifikasi gangguan kekurangan gizi amat bervariasi dan masih merupakan masalah yang serius. Walaupun demikian, secara klinis digunakan istilah malnutrisi energi dan protein (MEP) sebagai nama umum. Penentuan jenis MEP yang tepat harus dilakukan dengan pengukuran antropometri yang lengkap (tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit), dibantu dengan pemeriksaan laboratorium.
Malnutrisi merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional serta memiliki berbagai sebab yang saling berkaitan. Penyebab malnutrisi menurut kerangka konseptual UNICEF dapat dibedakan menjadi penyebab langsung (immediate cause), penyebab tidak langsung (underlying cause) dan penyebab dasar (basic cause).
Program Lembaga Pangan Dunia (WFP) dalam penelitannya pada awal tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gizi buruk dan rawan pangan di Indonesia mencapai angka 13 juta. Meski data pemerintah yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari secara resmi menyebutkan penderita gizi buruk hingga tahun 2007 mencapai angka 4,1 juta, atau naik tiga kali lipat dibanding jumlah penderita yang sama di tahun 2005 yakni 1,67 juta jiwa.
Di Indonesia, penderita Malnutrisi terdapat di kalangan ibu dan masyarakat yang kurang mampu ekonominya. Kondisi anak dengan gejala Malnutrisi dianggap kondisi “biasa” dan dianggap sepele oleh orang tuanya. Masyarakat di Indonesia, para ibunya berpendapat bahwa anak yang buncit perutnya bukan kekurngan nutrisi, melainkan karena penyakit cacingan.



Penderita malnutrisi tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit. pemberian terapi di tempat pelayanan kesehatan akan disesuaikan berdasarkan tingkat keparahan penyakit,pada beberapa kasus bisa diberikan asupan nutrisi melalui peroral,menggunakan NGT bagi yang tidak memiliki kontraindikasi,dan bisa juga secara parenteral.
Kematian akibat Malnutrisi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan  yang mengakibatkan kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah. Selain itu juga karena adanya penyakit, terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.

1.2         Rumusan Masalah
1.2.1        Apa pengertian dari Malnutrisi?
1.2.2        Etiologi dari Malnutrisi?
1.2.3        Apa tanda dan gejala dari Malnutrisi?
1.2.4        Patofisiologi dari Malnutrisi?
1.2.5        Bagaimana Klasifikasi dari Malnutrisi?
1.2.6        Bagaimana insiden terjadinya Malnutrisi?
1.2.7        Bagaimana penatalaksanaan yang tepat penderita Malnutrisi?
1.2.8        Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada  Malnutrisi?

1.3         Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas Sistem Pencernaan yang berupa makalah tentang Malnutrisi.
1.3.2        Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui pengertian dari Malnutrisi.
b.      Untuk mengetahui penyebab dari Malnutrisi.
c.       Untuk mengetahui tanda dan gejala dari Malnutrisi.
d.      Untuk mengetahui Patofisiologi dari Malnutrisi.
e.       Untuk mengetahui Klasifikasi dari Malnutrisi.
f.       Untuk mengetahui Insiden terjadinya Malnutrisi.
g.      Untuk mengetahui tatalaksana yang tepat pada Malnutrisi.

1.4         Manfaat Penulisan
1.4.1        Bagi institusi:
Sebagai tambahan sumber bacaan di perpustakaan
1.4.2        Bagi pembaca:
Untuk menambah wawasan kita mengenai pengertian, penyebab, patofisiologi, tanda gejala, serta tatalaksana dari Malnutrisi tersebut.
1.4.3        Bagi penulis:
Terpenuhinya tugas sistem pencernan yang berupa makalah Malnutrisi.
BAB 2
ISI

2.1.       Definisi

Malnutrisi merupakan kekurangan konsumsi pangan secara relatif  atau absolute untuk periode tertentu. (Bachyar Bakri, 2002)
Malnutrisi (Gizi salah) adalah kesalahan pangan terutama terletak dalam ketidakseimbangan komposisi hidangan penyediaan makanan. (Akhmad Djaeni, 2004).
Malnutrisi adalah defisiensi gizi terjadi pada anak mendapatkan masukan makanan yang cukup bergizi dalam waktu yang lama. (Ngastiyah, 1997)
Malnutrisi adalah keadaan terang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam keadaan sehari-hari sehingga tidak memenuhi dalam angka kecukupan gizi. (Depkes RI, 1999).



2.2.       Etiologi
2.2.1.      Penyebab langsung:
a.       Kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah.
b.      Adanya penyakit: Terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
Infeksi apapun dapat memperburuk keadaan gizi, malnutrisi walaupun masih ringan mempunyai pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi.


2.2.2.      Penyebab tidak langsung:
a.       Kurangnya ketahanan pangan keluarga: Keterbatasan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan. Penyakit kemiskinan malnutrisi merupakan problem bagi golongan bawah masyarakat tersebut.
b.      Kualitas perawatan ibu dan anak.
c.       Buruknya pelayanan kesehatan.
d.      Sanitasi lingkungan yang kurang.
e.       Faktor Keadaan Penduduk
Dalam World Food Conference di Roma dikemukakan bahwa kepadatan jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan tambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. Ms. Lorent memperkirakan bahwa marasmus terdapat dalam jumlah yang banyak jika suatu daerah terlalu padat daerahnya dengan hygiene yang buruk.(Iskandar, 2002)
2.3.       Gejala klinis

Baik pasien dengan kurang gizi maupun gizi buruk, hampir selalu disertai defisiensi nutrient lain selain kalori dan protein. Gejala yang timbul bergantung pada jenis nutrient yang kurang di dalam dietnya, seperti .
2.3.1.         Kekurangan vitamin A, akan menderita defisiensi vitamin A (xeroftalmia). Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya). Xeroftalmia berlanjut menjadi keratomalasia (buta).
2.3.2.         Defisiensi vitamin B1 (tiamin) disebut atiaminosis. Tiamin berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental, dan jantung.
2.3.3.         Defisiensi vitamin B2 atau ariboflavinosis. Vitamin B2 atau riboflavin berfungsi sebagai koenzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menimbulkan stomatitis angularis (retak-retak pada sudut mulut), glositis, kelainan kulit dan mata.
2.3.4.         Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.
2.3.5.         Defisiensi vitamin B12 dapat terjadi anemia pernisiosa. Vitamin B12 dianggap sebagai komponen antianemia dalam faktor ekstrinsik.
2.3.6.         Defisiensi asam folat akan menyebabkan timbulnya anemia makrositik megaloblastik, granulositopenia, dan trombositopenia.
2.3.7.         Defisiensi vitamin C menyebabkan skorbut (scurvy). Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblast karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intrasel. Kekurangan vitamin C akan mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan pula pada proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang, dan dentin. Vitamin C mempunyai peranan penting dalam respirasi jaringan.
2.3.8.         Defisiensi mineral seperti kalsium, fosfor, magnesium, zat besi, dengan segala akibatnya missal osteoporosis tulang dan anemia, yang paling serius adalah kekurangan yodium karena dapat menyebabkan gondok (goiter) yang merugikan tumbuh kembang anak.
2.4.       Manifestasi klinis

Adapun tanda dan gejala dari malnutrisi adalah sebagai berikut:
2.4.1.      Kelelahan dan kekurangan energi
2.4.2.      Pusing
2.4.3.      Sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan infeksi)
2.4.4.      Kulit yang kering dan bersisik
2.4.5.      Gusi bengkak dan berdarah
2.4.6.      Gigi yang membusuk
2.4.7.      Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
2.4.8.      Berat badan kurang
2.4.9.      Pertumbuhan yang lambat
2.4.10.  Kelemahan pada otot
2.4.11.  Perut kembung
2.4.12.  Tulang yang mudah patah
2.4.13.  Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh



2.5.       Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolong-kan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mem-pergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan untuk digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan kematian.



2.6.       WOC
ETIOLOGI
(TIDAK LANGSUNG)
-          Kemiskinan
-          Pendidikan kurang
(LANGSUNG)
-          Makanan tidak  bergizi
-          Penyakit
MALNUTRISI
Kebutuhan Kalori Tubuh  (    )
Nutrisi  ())
Protein
Defisiensi Protein
Pemecahan Glukosa selain dari karbohidrat
Cadangan
Makanan (    )
Asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tubuh butuh kalori untuk metabolisme
(Respon Tubuh)
Memecah cadangan Makanan
Reaksi Glukogenesis
Kalori
Defisiensi Kalori
Marasmus
Kwashiokor



Marasmus
Sistem Imun
Tubuh (   )
Gangguan Pertumbuhan &
Perkembangan Proses Berfikir
Infeksi Sel Napas
Intoleransi Aktifitas
Resiko Bersihan Jalan Napas tidak Efektif
Infeksi Sel Pencernaan
Rentan Infeksi
Gustroeutesitis (GE)
Penistaltik Usus (   )
Diare
Anoreksia
Eskresi Cairan (   )
Vol. Cairan Kurang dari Keb. Tubuh
Edema
Edema tungkai
Gangguan Citra Diri (    )
Turgor Kulit (    )
Kwashiokor

Kadar Albumin (   )
Kelemahan
Sekresi Mucus (   )
Kelelahan

 

2.7.       Klasifikasi
Kurang Energi Protein, secara umum dibedakan menjadi marasmus dan kwashiorkor.
2.7.1.      Marasmus

Adalah suatu keadaan kekurangan kalori protein berat. Namun, lebih kekurangan kalori daripada protein. Penyebab marasmus adalah sebagai berikut :
a.       Intake kalori yang sedikit.
b.      Infeksi yang berat dan lama, terutama infeksi enteral.
c.       Kelainan struktur bawaan.
d.      Prematuritas dan penyakit pada masa neonates.
e.       Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
f.       Gangguan metabolism.
g.      Tumor hipotalamus.
h.      Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang.
i.        Urbanisasi.



2.7.2.            Kwashiorkor
Adalah suatu keadaan di mana tubuh kekurangan protein dalam jumlah besar. Selain itu, penderita juga mengalami kekurangan kalori. Penyebabnya adalah :
a.        Intake protein yang buruk.
b.       Infeksi suatu penyakit.
c.        Masalah penyapihan.

Tabel Klasifikasi IMT Menurut WHO :
Klasifikasi
IMT (kg/ m2)
Malnutrisi berat
<16,0
Malnutrisi sedang
16,0 – 16,7
Berat badan kurang/ malnutrisi ringan
17,0 – 18,5
Berat badan normal
18,5 – 22,9
Berat badan kurang
≥ 23
Dengan resiko
23 – 24,9
Obes I
25 – 29,9
Obes II
≥ 30




2.8.       Insidensi
Program Lembaga Pangan Dunia (WFP) dalam penelitannya pada awal tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gizi buruk dan rawan pangan di Indonesia mencapai angka 13 juta. Meski data pemerintah yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari secara resmi menyebutkan penderita gizi buruk hingga tahun 2007 mencapai angka 4,1 juta, atau naik tiga kali lipat dibanding jumlah penderita yang sama di tahun 2005 yakni 1,67 juta jiwa.
Tentunya, angka ini sangat mencengangkan dunia internasional, kenyataan ini membuat salah satu produsen makanan ringan terkemuka di Indonesia menggalang aksi kepedulian dengan mencantumkan data ini dalam kemasan produknya sehingga diharapkan masyarakat berempati dan kemudian mendonasikan sebagian uangnya untuk penanggulangan gizi buruk.
Hingga akhir April 2008, sejumlah bencana masih melanda berbagai daerah, musim penghujan belum kunjung usai, angin puting beliung, rob, banjir bandang dan longsor yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur dan badai elnina yang berefek pada ombak 4-6 meter di sebagian wilayah laut Indonesia. Musibah ini mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan lahan pertanian. Lahan pertanian yang sedianya menjadi sumber pangan bagi masyarakat, kondisnya hancur, gagal panen (puso). Akibatnya masyarakat terancam kekurangan pangan.
2.9.       Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan.
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.


Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap:
2.7.1.      Tahap awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
a.       Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
b.      Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
c.       Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
d.      Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.




2.7.2.      Tahap kedua yaitu penyesuaian.
Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan.
Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan
Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah, khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan. Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase.

2.10.   Pemeriksaan Diagnostik
Pada data laboratorium penurunan albumin serum merupakan perubahan yang paling khas. Ketonuria sering ada pada stadium awal kekurangan makan tetapi seringkali menghilang pada stadium akhir. Harga glukosa darah rendah, tetapi kurva toleransi glukosa dapat bertipe diabetic. Ekskresi hidroksiprolin urin yang berhubungan dengan kreatinin dapat turun. Angka asam amino esensial plasma dapat turun relatif terhadap angka asam amino non-esensial, dan dapat menambah aminoasiduria.
Defisiensi kalium dan magnesium sering ada. Kadar kolesterol serum rendah, tetapi kadar ini kembali ke normal sesudah beberapa hari pengobatan. Angka amilase, esterase, kolinesterase, transaminase, lipase dan alkalin fosfatase serum turun. Ada penurunan aktivitas enzim pancreas dan santhin oksidase, tetapi angka ini kembali normal segera sesudah mulai pengobatan. Anemia dapat normositil, mikrositik, atau makrositik. Tanda-tanda defisiensi vitamin dan mineral biasanya jelas. Pertumbuhan tulang biasanya terlambat. Sekresi hormon pertumbuhan mungkin bertambah.
Diagnosa banding kehilangan protein adalah infeksi kronik, penyakit yang menyebabkan kehilangan protein berlebihan melalui urin atau tinja, dan keadaan ketidakmampuan metabolik untuk mensintesis protein.




BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.       Pengkajian
3.1.1.      Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
3.1.2.      Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam waktu relatif lama).
3.1.3.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
3.1.4.      Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
a.       Penurunan ukuran antropometri
1.      Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
2.      Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra
b.      Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot intercostal)
1.      Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare.
c.       Edema tungkai
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
d.      Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun.
Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.



3.2.       Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah:
3.2.1.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
3.2.2.      Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
3.2.3.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
3.2.4.      Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
3.2.5.      Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikirb/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit kwashiokor dan marasmus.
3.2.6.      Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti terjadi moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.

3.3.       Intervensi Keperawatan
3.3.1.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,anoreksia dan diare .
a.       Berikan makan sedikit tapi sering
R/ dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makanan terlalu cepat setelah periode puasa
b.   Berikan pilihan menu makanan sesuai selera klien.kecuali kontraindikasi.
R/ makanan yang sesuai selera diharapkan bisa meningkatkan nafsu makan klien.
c.  Berikan diet cair dan makanan selang melalui NGT.
R/ Bila pasien mengalami gangguan dalam proses mencerna makanan,bisa diberikan sebagai alternatif untuk tetap mempertahankan asuhan nutrisi bagi pasien.



3.3.2.      Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan ekskresicairan tubuh akibat diare.
a.       Awasi jumlah dan tipe masukan cairan.ukur keluaran urine dengan akurat.
R/ pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasiatau mengganti caira untuk masukan kalori yang yang berdampak pada keseimbangan elektrolit
b.      Kaji hasil tes fungsi elektrolit / ginjal.
R/ perpindahan cairan dan elektrolit,penurunan fungsi ginjal dapat meluasmempengaruhi penyembuhan pasien / prognosis dan memerlukan intervensi tambahan.
c.       Tambahan kalium oral atau iv sesuai indikasi
R/ dapat diperlukan untuk mencegah disritmia jantung.

3.3.3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
Intervensi:
a.         Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat ditolerir.
Rasional : Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat.
b.        Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalamaktivitas perawatan mandiri.
c.         Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan stress.
Rasional : Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.




d.        Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas.
Rasional : Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.

3.3.4.           Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
a.       Auskultasi bunyi napas.catat adanya bunyi napas.
R/ adanya bunyi napas dimanifestasikan dengan adanya obstruksi jalan napas.
b.      Dorong dan bantu pasien melakukan latihan napas abdomen atau bibir.
R/ memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan menurunkan jebakan udara.
c.       Tingkatkan masukan ciran sampai 3000ml/hari sesuai toleransi jantung.memberikan air hangat.anjurkan masukan cairan sebagai pengganti makanan.
R/ hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret,mempermudah pengeluaran sekret.penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.

3.3.5.      Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikir b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit kwashiokor dan marasmus.
a.       Sadari penyimpangan kemampuan berpikir pasien
R/ memungkinkan perawat membuat harapan nyata pada pasien dan memberikan informasi serta dukungan yang tepat.
b.      Ikuti program nutrisi dengan ketat
R/ memperbaiki nutrisi penting untuk memperbaiki fungsi otak.



c.       Kaji tes fungsi ginjal / elektrolit
R/ ketidakseimbangan mempengaruhi fungsi otak dan memerlukan perbaikan sebelum intervensi terapeutik dapat dimulai.

3.3.6.      Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti terjadi moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.
a.       Tingkatkan konsep diritanpa penilaian moral
R/ pasien melihat diri sebagai lemah harapan,meskipun bagian pribadi merasa kuat dan dapat mengontrol
b.      Biarkan pasien menggambarkan dirinya sendiri.
R/ memberikan kesempatan mendiskusikan persepsi pasien tentang gambaran diri dan kenyataan individu.
c.       Catat penolakan pasien dari ketidaknyamanan dalam hubungan sosial.
R/ menunjukkan perasaan isolasi dan takutpenolakan atau penilaian orang lain.penghindaran situasi sosial dan kontak dengan orang lain dapat membuat perasaan tak berharga.





3.4. Evaluasi  Keperawatan
3.4.1.  Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,anoreksia dan diare .
a.       Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.
b.      Menyiapkan pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk meningkatkan / mempertahankan berat badan yang ideal.
c.       Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu.

3.4.2.  Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan ekskresicairan tubuh akibat diare.
a.       Mempertahankan / menunjukkan perubahan keseimbangan cairan,dibuktikan oleh haluaran urine adekuat,tanda vital stabil,membran mukosa lembab,turgor kulit baik.
b.      Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan perilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan.

3.4.3.  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
a.       Melaporkan peningkatan toleransi aktifitas (ternasuk aktifitas sehari-hari).
b.      Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi, misal nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentan normal pasien.
3.4.4.  Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
a.       Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi naps bersih atau jelas.
b.      Pasien dapat menunjukkan perilaku untuk memperbaiki jalan napas secara mandiri misal batuk,mengelarkan sekret,melakukan latihan napas abdomen atau bibir.

3.4.5.  Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikir b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit kwashiokor dan marasmus.
a.       Pasien mampu menyatakan pemahaman faktor penyebab dan menyadari adanya gangguan.
b.      Pasien menunjukkan perilaku untuk mengubah / mencegah malnurisi.
c.       Pasien menunjukkan perubahan kemampuan untuk membuat keputusan,dan mampu memecahkan masalah.

3.4.6.  Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti terjadi moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.
a.       Pasien mampu membuat gambaran dirinya secara nyata.
b.      Mengakui diri sebagai individu yang berharga dengan menumbuhkan rasa percaya diriyang baik.
c.       Menerima tanggung jawab untuk tindakan sendiri.




BAB 4
PENUTUP

4.1.       Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Malnutrisi merupakan suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas.
Penyebab Malnutrisi secara langsung ialah karena kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah. Serta karena adanya penyakit infeksi.
Sedangkan penyebab yang tidak langsung ialah kurangnya ketahanan pangan keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan yang kurang, buruknya pelayanan kesehatan
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.
Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan.

4.2.       Saran
Pemenuhan akan kebutuhan gizi dalam tubuh merupakan salah satu cara meminimaklisir terjadinya Malnutrisi. Cara itu dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.



DAFTAR PUSTAKA
.
Andessa, Hesa. 2010. Asuhan Keperawatan Anak dengan Protein. http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-anak-dengan-protein.html. Diakses 12 Maret 2012. Pukul 17.00 WIB

Anonimus. 2010. Asuhan Keperawatan Anak.http://nurse87.wordpress.com/2010/10/09/asuhan-keperawatan-anak-%E2%80%9Cmarasmik-kwashiorkor%E2%80%9D/. Diakses 12 Maret 2012. Pukul 20.00 WIB.

Anonimus. 2011. Askep Malnutrisi Energi Protein. http://www.askep.net/pdf/ askep-malnutrisi-energi-protein. Diakses tanggal 13 Maret 2012. Pukul 21.00 WIB.

Anonimus. 2011. Askep Malnutrisi. http://hidupsehat9.blogspot.com/2011/03/askep-malnutrisi.html. Diakses tanggal 12 Maret 2012. Pukul 22.00 WIB.

Anonimus.2009.Malnutrisi.http://dokterblog.wordpress.com/2009/05/19/malnutrisi/. Diakses 12 Maret 2012. Pukul 21.00 WIB.

Anonimus.2010.Dukungan Nutrisi pada Kaus Penyakit Dalam.http://gizisehat.wordpress.com/2010/05/31/dukungan-nutrisi-pada-kasus-penyakit-dalam/. Diakses 14 Maret 2012. Pukul 20.00 WIB.

Anonimus.2010.Penderita Gizi Buruk di Indonesia Mencapai 13 Juta.http://my.opera.com/stoppenindasan/blog/penderita-gizi-buruk-di-indonesia-mencapai-13-juta-ji. Diakses 14 Maret 2012. Pukul 19.00 WIB.

Anonimus.2011.Askep Malnutrisi.http://asuhankeperawatanneuromaakustik.blogspot.com/2011/05/askep-malnutrisi.html. diakses 14 Maret 2012. Pukul 22.00 WIB.

Anonimus.2011.Kenali Tanda dan Gejala Gizi Buruk.http://medicastore.com/artikel/284/Kenali_Tanda_dan_Gejala_Gizi_Buruk.html.Diakses 13 Maret 2012. Pukul 04.00 WIB

Anonimus.2011.Malnutrisi.http://www.indonesiaindonesia.com/f/11150-malnutrisi/.Diakses 12 Maret 2012. Pukul 24.00 WIB

Corwin, J Elizabeth . 2009 . Buku Saku Patofisiologi . Jakarta : EGC

Doenges, E. Marilyn. Rencana  Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC : Jakarta. 

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.

Nining. 2008. Asuhan Keperawatan Anak dengan Protein. http://ns-nining.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-anak-dengan-protein.html. Diakses 13 Maret 2012. Pukul 22.00 WIB.

Pearce, C Evelyn . 2008 . Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sediaoetama,A.D.1985.Ilmu Gizi.jil 1.Dian Rakyat : Jakarta.

Sloane, Ethel . 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula . Jakarta : EGC

Suhardjo. 1988 . Perencanaan Pangan dan Gizi . Bumi Aksara : Jakarta.

Supariasa,I. Dewa Nyoman S. 2001.  Penilaian Status Gizi. EGC : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas kunjungannya..
semoga bermanfaat.. :)