Kamis, 23 Mei 2013

Penyalahgunaan Zat



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Penyalahgunaan NAPZA semakin banyak dibicarakan baik di kota besar maupun kota kecil di seluruh wilayah RepublikIndonesia. Peredaran NAPZA sudah sangat mengkhawatirkan sehingga cepat atau lambat penyalahgunaan NAPZA akan menghancurkan generasi bangsa atau disebut dengan lost generation (Joewana, 2005). Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut; faktor keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya; faktor lingkungan lebih pada kurang positifnya sikap masyarakat terhadap masalah tersebut misalnya ketidakpedulian masyarakat tentang NAPZA (Hawari, 2003).
Ketergantungan obat telah menjadi masalah yang besar, kompleks dan sukar diberbagai negara umpamanya Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Thailand, dan Jepang. Walaupun di Indonesia masalah ini masih relatif kecil bila dibandingkan dengan negara-negara tersebut. Namun, pemerintah telah mengambil kebijaksanaan membentuk badan-badan resmi khusus untuk menangani masalah ini, supaya jangan meluas seperti di negara lain. Pihak swastapun bersama pemerintah mengambil bagian dalam pemecahan masalah ketergantungan obat, terutama dalam bidang penerangan dan pengobatan intoxikasi.
Penyebab tepat dari penyalahgunaan zat masih belum jelas. Faktor-faktor genetika, mekanisme biokimia, lingkungan dan faktor interpersonal, serta sikap budaya tentang zat dan penggunaannya, dapat saling berimplikasi.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang sedang dirawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat tentang perawatan dan pencegahan kembali penyalahgunaan NAPZA pada klien. Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (sindroma putus zat).

1.2.       Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian penyalahgunaan zat ?
2.    Apa saja etiologi penyalahgunaan zat ?
3.    Apa saja jenis-jenis zat yang dilarang ?
4.    Bagaimana terapi penanganannya ?
5.    Bagaimana aplikasi proses dalam keperawatan ?

1.3.       Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Makalah ini dibuat sebagai pedoman atau acuan dalam membandingkan antara teori dan praktek dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan penyalahgunaan zat, serta untuk mengetahui informasi-informasi mengenai penyalahgunaan zat.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.    Mengetahui pengertiaan penyalahgunaan zat
2.    Mampu memahami etiologi penyalahgunaan zat
3.    Mengetahui jenis-jenis zat yang dilarang
4.    Mengetahui terapi penanganan penyalahgunaan zat
5.    Mampu memahami cara mengaplikasi proses dalam keperawatan

1.4.       Manfaat
1.4.1. Bagi Penulis
Terpenuhinya tugas keperawatan jiwa yang berupa makalah penyalahgunaan zat.
1.4.2. Bagi Institusi
Sebagai tambahan sumber bacaan di perpustakaan.
1.4.3. Bagi Pembaca
Untuk menambah wawasan kita mengenai pengertian, penyebab, tanda gejala, serta tatalaksana dari penyalahgunaan zat tersebut.


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1.       Pengertian Penyalahgunaan Zat
Penyalahgunaan zat adalah penyalahgunaan suatu zat dengan konsekuensi merugikan yang kambuhan dan signifikan berkaitan dengan penggunaan yang berulang. (Isaacs, 2004)
Zat psikoaktif adalah obat atau zat kimia yang mengubah satu atau beberapa dari yang berikut ini : persepsi, kewaspadaan, kesadaran, cara berfikir, penilaian, pengambilan keputusan, wawasan, mood atau perilaku. (Isaacs, 2004)
Ketergantungan zat adalah sekumpulan gejala kognitif, perilaku, dan fisiologik, yang mengindikasikan penggunaan zat yang kontinu tanpa mempedulikan masalah kehidupan yang dihadapi berkaitan dengan penggunaan tersebut. (Isaacs, 2004) 
Di Indonesia mengenal istilah NAPZA yang merupakan singkatan dari narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Narkotika yaitu zat-zat alamiah maupun sintetik dari bahan yang dapat menimbulkan kecanduan yang mempunyai efek menurunkan atau mengubah kesadaran.  Alkohol merupakan zat aktif dalam berbagai minuman keras. Di dalam alkohol terkandung etanol yang berfungsi menekan syaraf pusat. Kemudian psikotropika yaitu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif, yaitu perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan zat-zat adiktif adalah zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan. Zat-zat ini berbahaya karena bisa mematikan sel otak. 


2.2.       Etiologi Penyalahgunaan Zat
Menurut Ann Isaacs dalam bukunya yang berjudul Lippincott’s review series: Mental Health and Psychiatric nursing, 3/e menyebutkan penyebab dari seseorang menyalahgunakan zat adalah sebagai berikut :
2.2.1. Teori genetika
Terdapat bukti adanya keterlibatan komponen genetika pada penyalahgunaan zat; tapi hampir semua penelitian yang dilakukan adalah tentang penyalahgunaan alkohol.
1.    Metabolisme alkohol memiliki satu komponen genetika, yang membantu menjelaskan perbedaan angka alkoholisme pada berbagai kelompok budaya.
2.    Statistik
a.    Risiko menjadi lakoholik bagi kerabat tingkat pertama adalah 50%.
b.   Angka herediter untuk kembar monozigot bila salah satu kembarannya bermasalah dengan alkohol adalah 70%, sementara angka herediter untuk kembar dizigot adalah 30%.
c.    Kromosom 1, 3 dan 7 rentan terhadap penyalahgunaan alkohol.
2.2.2. Teori psikobiologik
Penelitian menunjukkan bahwa zat adiktif dapat mengaktifkan neurotransmiter dalam jalur reward mesolimbik dopaminenergik di dalam otak.
1.    Stimulasi jaras ini dapat memperkuat sifat “mabuk”.
2.    Bila keseimbangan neurotransmiter di dalam otak berubah, muncullah kebutuhan untuk terus ketergantungan terhadap obat ini.
2.2.3. Teori psikososial dan lingkungan
1.    Teori perkembangan (psikodinamika)
a.    Individu mengalami kerusakan ego dan gangguan kesadaran tentang dirinya; ketergantungan pada suatu zat dapat meningkatkan harga diri dan memperbaiki kemampuan individu tersebut untuk berinteraksi dengan orang lain.
b.   Perasaan bersalah dan malu dapat timbul akibat penggunaan zat yang kontinu.
2.    Teori keluarga
Mengimplikasikan sistem keluarga yang tidak berfungsi, dicirikan dengan keluarga-keluarga yang terperangkap tempat anak-anak merasakan adanya peningkatan ketergantungan dan berpaling ke zat untuk pseudoseparasi (memberontak).
3.    Teori sosial budaya
a.    Berbagai zat digunakan untuk mengurangi keputusasaan yang dialami akibat kemiskinan dan pengangguran kronis.
b.   Ambivalensi sosial tentang penggunaan zat terlihat dari pesan-pesan iklan yang secara dominan mengatakan bahwa penggunaan obat dapat mengatasi masalah.
4.    Teori perilaku-kognitif
Penyalahgunaan zat merupakan respons yang dipelajari terhadap stimulus yang menyebabkan stres; respon ini menguat karena penggunaan berbagai zat tersebut dapat secara temporer mengurangi ansietas dan menambah perasaan sejahtera.

2.3.       Jenis-jenis Zat yang Dilarang
2.3.1. Alkohol
1.    Efek langsung
Intoksikasi akut menyebabkan bicara tidak jelas, kurang koordinasi, cara berjalan tidak stabil, dan gangguan perhatian dan memori. Dosis tinggi dapat menyebabkan stupor dan koma.


Penggunaan kronis
Alkohol dapat menyebabkan disfungsi multisistem, yaitu :
a.    Efek gastrointestinal meliputi gastritis, pankreatitis, dan sirosis hati.
b.   Efek SSP berkaitan dengan efek defisiensi tiamin (Vitamin B1).
1)   Gejala Wernicke adalah keadaan konfusi akut yang dicirikan dengan ataksia, delirium dan neuropati perifer. Pengobatan dengan tiamindapat menyembuhkan gangguan ini.
2)   Gejala Korsakoff adalah kerusakan kognitif kronis (demensia) yang dicirikan dengan atrofi selebri dan hilangnya daya ingat. Gangguan ini diatasi dengan sikap mendukung seperti halnya terhadap gangguan demensia yang lain. 
3) Masalah kardiovaskuler meliputi anemia, kardiomiopati dan gangguan pembekuan darah
c. Amnesia anterograd terjadi pada penggunaan alkohol kronis dna dicirikan dengan hilangnya memori jangka pendek. Individu tetap berfungsi dalam situasi sosial selama ia mengalami blackouts, tetapi nantinya ia tidak dapat mengingat apapun yang terjadi pada saat itu.
d. Masalah reproduksi meliputi sindrom alkohol janin (fetal alcohol syndrome[FAS]) pada bayi dan ibunya mengalami gangguan FAS dicirikan dengan berat badan lahir rendah, gambaran wajah abnormal, mikrosefali, retardasi mental, abnormalitas jantung dna genital, masalah penglihatan dan pendengaran.
1.    Kadar alkohol dalam darah 
Kadar alkohol dalam darah (blood alcohol level [BAL]) merupakan hal penting dalam definisi hukum tentang intoksikasi. BAL menentukan kriteria tindakan hukum yang berkaitan dengan berkendara di bawah pengaruh alkohol (driving under the influence [DUI]).


a.    BAL mencapai puncaknya dalm waktu 50 menit sampai 3 jam setelah minum minuman keras.
b.   Definisi hukum dari intoksikasi berfariasi antara negara yang satu dengan negara yang lain, BAL berkisar antara 80 sampai 100 mg/dl (0,08 sampai 0,1 g/dl)
c.    Koma biasanya terjadi dengan BAL 0,4 g/dl dan depresi pernapasan dengan BAL 0,5 g/dl.
d.   Individu yang telah mengalami toleransi dapat mengalami peningkatan BAL dengan perubahan perilaku minimal dna karenanya dapat berisiko mengalami gejala putus zat yang parah.
1.    Gejala putus zat
a.    Gemetar ringan (“goncangan”) dapat terjadi 3 sampai 36 jam setelah minuman terakhir dan dicirikan dengan ansietas, agitasi, tremor, anoreksia, mual, berkeringat, dan peningkatan frekuensi nadi dan tekanan darah.
b.   Sindrom putus alkohol berat (delirium tremens) dapat terjadi 24 sampai 72 jam setelah minuman terakhir dan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, frekuensi nadi, dan tekanan darah; banyak keringat; halusinasi pendengaran, penglihatan dan taktil; gelisah; konfusi; dna kejang.
2.3.1. Depresan SSP
Depresan SSP lain termasuk barbiturat, nonbarbiturat sedatif-hipnotik dan ansiolitik.
1. Metode penggunaannya adalah secara oral


1.    Efek langsung meliputi euforia, gangguan perhatian dan memori, sedasi, retardasi psikomotor, wajah kemerahan, bradikardia, dan hipotensi. Dosis tinggi dapat menyebabkan depresi pernapasan, koma dan kematian.
2.    Penggunaan kronis. Efek psikologis (misal; depresi, paranoia) akibat penggunaan yang kronis, bergantung pada zat spesifik yang digunakan dan efeknya pada sistem tubuh.
3.    Sifat sinergis. Efek depresan SSP adalah saling menambah satu sama lain, dan begitu juga dengan alkohol. Oleh karena itu, efekdepresan akan bertambah bila zat dari kelompok ini dikonsumsi lebih dari satu; akibat dari hal tersebut tidak dapat diprediksi dan seringkali bersifat fatal.
4.    Overdosis
a.    Tidak ada antidotum untuk overdosis depresan SSP
b.   Stimulan SSP dapat secara temporer menyadarkan individu yang mengalami overdosis, tetapi sampai saat ini tidak ada obat yang dapat menghilangkan depresan dari reseptor otak dan membalikkan efeknya.
5.    Gejala putus zat
a.    Gejala putus zat terjadi sampai 24 sampai 72 jam setelah dosis terakhir. Pada zat dengan waktu paruh yang panjang, gejala putus obat dapat tidak terjadi sampai 1 minggu.
b.   Gejala putus zat ditandai dengan ansietas, tremor, insomnia, anoreksia, mual dan muntah. Gejala-gejala yang lebih berat seperti hipertensi, takikardia, delirium, dan halusinasi juga dapat terjadi.
2.3.1. Opioid
1.    Metode yang digunakan dapat secara oral, dihisap, dihirup atau injeksi.
2.    Efek langsung meliputi euforia, agitasi, apatis, penurunan sensasi nyeri, gangguan perhatian dan memori, sedasi (“noding out”), retardasi psikomotor, pinpoint pupil, mula, dan muntah. Efek yang lebih parah meliputi berkurangnya tekanan darah, hipotermia, depresi pernapasan, dan kematian.
3.    Penggunaan kronis, dapat menyebabkan masalah fisik dan sangat merusak fungsi sosial dan okupasi.
a.    Gaya hidup penyalahgunaan heroin dicirikan dengan perilaku mencari sampai meninggalkan aktivitas hidup sehari-hari
1)   Penyalahguna heroin jarang dapat mempertahankan pekerjaan tetap yang akan mendukung kebiasaan mereka.
2)   Mendapatkan dana secara ilegal merupakan hal yang umum dilakukan.
b.   Efek fisik
1)   Efek gastrointestinal meliputi lambatnya peristaltik dan konstipasi kronis
2)   Individu yang menyalahgunakan heroin secara intravena dapat mengalami abses kulit multipel pada ekstremitas serta vena yang menjadi gelap, keras dna berjaringan parut
3)   Penggunaan jarum yang terkontaminasi dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi, termasuk hepatitis B, C dan D serta AIDS.
4.    Overdosis
a.    Overdosis opioid merupakan kedaruratan medis yang menempatkan individu pada bahaya henti nafas.
b.   Nalokson (Narcan), sebuah antagonis opioid, diberikan secara intravena untuk mengatasi overdosis. Nalokson bekerja singkat dan harus diberikan dalam dosis berulang, dan klien harus diobservasi dengan cermat untuk adanya hipotensi.
c.    Penggantian volume digunakan untuk mengatasi hipotensi.
5.    Pajanan terhadap janin
a.    Terpajannya janin toleh opioid berhubungan dengan meningkatnya angka prematuritas dan berisiko 5 samapi 10 kali lebih tinggi mengalami sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrom [SIDS])
b.   Bayi baru lahir dari ibu yang kecanduan juga menderita gejala putus zat, meliputi sensitif terhadap suara, berkeringat, iritabilitas, tremor, hidung tersumbat, dan sulit makan.
6.    Gejala putus zat
a.    Gejala dapat terjadi 6 sampai 24 jam setelah dosis terakhir.
b.   Gejalanya cukup menimbulkan stres, tetapi ringan secara medis, dna meliputi mual, muntah, sakit otot, kram, lakrimasi, rinhorea, piloereksi, berkeringat, demam dan insomnia. Takikardia dan hipertensi juga dapat terjadi akibat rebound norepinephrin.
2.3.2. Inhalan
1.    Metode penggunaannya adalah menghirup asap dari zat tersebut.
2.    Efek langsung meliputi euforia, pusing, ataksia, perilaku tidka terkendali, rasa melayang dan perubahan persepsi (termasuk halusinasi). Inhalan dapat menyebabkan depresi pernapasan dan jantung serta dapat menyebabkan kematian mendadak.

3. Penggunaan kronis dapat merusak ginjal, hati dan otak.
4.    Epidemiologi
a.    Remaja paling sering menggunakan inhalan, sering menjadi bagian dari aktivitas dan tekanan kelompok sebaya.
b.   Walaupun penggunaan inhalan banyak dilakukan dan berbahaya, hanya sejumlah kecil saja pengguna yang menjadi ketergantungan.
5.    Gejala putus zat
a.    Meskipun gejala putus zat belum diketahui dengan baik, gejala-gejalanya telah dicatat 24 sampai 48 jam setelah dosis terakhir.
b.   Gejalanya meliputi gangguan tidur, tremor, iritabilitas, diaforesis, mual dan ilusi singkat.
2.3.3. Amfetamin dan obat-obat terkait
1.    Metode penggunaanya meliputi oral, merokok, atau injeksi.

2.    Efek langsung meliputi peningkatan energi, euforia, kewaspadaan ekstrim, kekerasan, gangguan penilaian, peningkatan tekanan darah, takikardia, dilatasi pupil, insomnia, berkurangnya nafsu makan, mual dna muntah
3.    Penggunaan kronis amfetamin
a.    Penggunaan kronis dapat menyebabkan paranoia dan malnutrisi.
b.   Penggunaan secara IV dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi, seperti hepatitis B, C, D dan AIDS.
c.    Individu yang merupakan pengguan kronis berisiko tinggi mengalami stroke dan serangan jantung.
4.    Pola penggunaan. Individu yang menyalahgunakan amfetamin dapat mengadakan pesta minuman yang dilanjutkan dnegan peride kelelahan, depresi dan putus zat (“crash”).
5.    Kafein dna Nikotin saat ini merupakan stimulan yang paling banyak digunakan di Amerika Seriakt (Townsend, 1999)
a.    Kafein. Asupan 500 sampai 600 mg/hari (sama dengan 4 cangkir kopi) dapat menyebabkan ansietas, insomnia dan depresi.
1)   Takikardia dan aritmia juga dapat terjadi
2)   Gejala putus kafein juga belum dapat dimasukkan ke dalam the diagnosyic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi 4 (DSM-IV), namun gejala-gejala yang sudah didokumentasikan meliputi sakit kepala, keletihan ansietas atau depresi, mual dan muntah.



b.   Nikotin terus menyerang 30% dari populasi
1)   Disamping risiko kesehatan secara keseluruhan sudah didokumentasikan dengan baik, nikotin juga dapat menyebabkan takikardia, dan peningkatan tekanan darah.
2)   Gejala putus nikotin dapat menyebabkan depresi, insomnia, iritabilitas, ansietas, bradikardia, dan peningkatan nafsu makan.
3)   Pengobatan terhadap gejala putus nikotin meliputi penggunaan permen karet nikotin atau koyo nikotin dengan dosis yang dikurangi secara bertahap selama tiga minggu sampai tiga bulan
 
6.    Gejala putus amfetamin dan zat terkait
a.    Gejala putus zat terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari setelah dihentikannya penggunaan zat tersebut. 
b. Gejala putus zat dicirikan dengan depresi, keletihan, mimpi yang sanagt nyata dan buruk, insomnia atau hipersomnia, paranoia, dan retardasi psikomotor atau agatasi.
2.3.1. Kokain
1.    Metode penggunaannya meliputi mengendus, merokok, atau injeksi.


 
2.    Efek langsung meliputi euforia, ansietas, marah, gangguan proses berfikir dan penilaian, kewaspadaan terlalu tinggi.
a.    Efek fisik yang lebih buruk meliputi takikardia, aritmia jantung, dilatasi pupil, peningkatan tekanan darah, konfusi dan kejang.
b.   Kematian dapat terjadi akibat aritmia jantung atau perdarahan intrakranial yang disebabkan oleh hipertensi yang parah.
3.    Efek kronis meliputi perforasi septum nasalis, kerusakan paru dan penyakit infeksi kronis (hepatitis B, C, D dan AIDS) yang disebabkan oleh tranmisi IV. Kokain menimbulkan euforia yang ekstrim dan karenanya dapat menyebabkan ketergantungan fisiologis setelah penggunaan awal.
4.    Pajanan terhadap janin
a.    Pajanan janin terhadap kokain pada trimester pertama berkaitan dengan kerusakan neurologik, yang menyebabkan terjadinya masalah belajar dan perilaku.
b.   Setelah dilahirkan, bayi-bayi tersebut mengalami pola tidur yang abnormal, tremor, kejang (kadang-kadang), iritabilitas, dan sulit makan.
5.    Gejala putus zat ini sama dangan gejala putus zat pada stimulan-stimulan yang lain.
2.3.2. Halusinogen
1.    Metode penggunaan dapat berupa oral. injeksi, rokok atau dihirup.
2.    Efek langsung meliputi persepsi yang menguat, termasuk respons yang meningkat terhadap warna, tekstur, dan suara.
a.    Ilusi dan halusinasi, ansietas dan depresi juga dapat terjadi. Beberapa obat dalam kelompok ini (misal; LSD, PCP) dapat menyebabkan dilatasi pupil dan takikardia


   
b.   Efek yang dihasilkan oleh zat ini tidak dapat diduga dan dapat berkaitan dengan obat dan dosis tertentu serta keadaan mental individu tersebut.
c.    Reaksi panik (“bad trip”) dicirikan dengan tingginya tingkat ansietas, ketakutan dna paranoia.
3.    Penggunaan kronis
a.    Kilas balik (misal; pengulangan penglaman halusinogenik yang singkat dan spontan yang terjadi selama zat tidak dikonsumsi), gangguan psikotik disertai waham, dan gangguan mood serta ansietas juga dapat terjadi bila zat ini digunakan sacara kronis.
b.   Penggunaan dan ketergantungan PCP dapat menyebabkan gejala seperti suka berkelahi, menyerang, perilaku impulsif, agitasi psikomotor, dan gangguan penilaian. Respons fisik meliputi hipertensi, takikardia, dan berkurangnya responsivitas terhadap nyeri.
4.    Gejala putus zat meliputi letargi, depresi dan kemungkinan serangan panik.
2.3.3. Kanabis
1.    Metode penggunaanya berupa oral atau rokok.

2.    Efek langsung meliputi perubahan persepsi sensorik, euforia, gangguan koordinasi, menarik diri secara sosial, iritasi konjungtiva, peningkatan nafsu makan, mulut kering, dan takikardia.
3.    Penggunaan kronis dapat mengakibatkan letargi dan depresi ringan; reaksi paranoid juga dapat terjadi.
a.    Penggunaan kronis dapat menyebabkan batuk kronis dan bertambahnya risiko penyakit paru kronis, seperti emfisema dan kanker.
b.   Berkurangnya kadar testosteron juga dapat terjadi.
c.    Kanabis menembus plasenta dan berkaitan dnegan berat badan lahir rendah dan kecilnya lingkar kepala.
4.    Bahan-bahan psikoaktif utama dalam kanabinoid adalah tetra-hidrokanabinol (THC). Penggunaan paling bermanfaat dari obat ini adalah untuk mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi.
5.    Gejala putus zat meliputi gelisah, iritabilitas, insomnia, tremor dna mual. Pengobatan gejala putus obat biasanya bersifat suportif.

2.1.       Terapi Penanganan
2.4.1. Pertimbangan Umum
Keputusan pengobatan, termasuk asuhan yang direkomendasikan, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi klien, antara lain :
1.    Jenis zat yang disalahgunakan dan keparahan ketergantungan
2.    Risiko gejala putus obat
3.    Fungsi sosial dan okupasi saat ini
4.    Jumlah kekambuhan sebelumnya
5.    Kemauan klien untuk menerima pertolongan




 

2.4.2. Program Rumah Sakit atau Residensial
Program-program ini biasanya dianjurkan bagi pasien dengan ketergantungan yang berat terhadap zat atau gagal dalam program rehabilitas berbasis komunitas. Pengobatan lanjutan direkomendasikan setelah pengobatan rawat inap di rumah sakit.
Jenis-jenis program yang dianjurkan bagi pasien yaitu :
1.    Unit detokxifikasi medis
Terdapat di rumah sakit komunitas, menyediakan pelayanan detoksifikasi selama beberapa hari sampai seminggu. Klien lalu dirujuk ke program residensial lainnya atau program lanjutan berbasis komunitas.
2.    Unit ketergantungan obat
Terdapat di rumah sakit jiwa atau pusat perawatan residensial khusus. Program jangka pendek (3 sampai 6 minggu) memberikan pengobatan yang biasanya didasarkan pada program 12 langkah (misal seperti yang direkomendasikan oleh Alcoholics Anonymous [AA] dan Narcotics Anonymous [NA]).
3.    Program residensial jangka panjang
Direkomendasikan (3 sampai 6 bulan) untuk individu dengan riwayat penyalahgunaan zat yang sudha lama dan multimasalah akibat dari penyalahgunaan tersebut. Program ini memberikan lingkungan komunitas yang terapeutik untuk mengobati penyalahgunaan dan melatih berbagai keterampilan hidup.
2.4.3. Program Berbasis Komunitas
Saat ini lebih banyak terdapat di lingkungan managed care, yang menekankan efisiensi biaya dan perawatan di lingkungan yang paling tidak restriktif.
1.    Program hospitalisasi parsial
Memberi perawatan sampai 20 jam perminggu, dengan dukungan dan penyuluhan kelompok yang terapeutik tentang kecanduan zat, keterampilan koping dan pembentukan harga diri.
2.    Konseling rawat jalan
Diberikan oleh ahli terapi, program terapi kelompok, atau konselor obat dan alkohol tertentu dipekerjakan oleh klinik obat dan alkohol setempat atau pusat kesehatan jiwa.
3.    Kelompok swadaya
Seperti AA dan NA, memberikan bimbingan dan program spesifik yang dirancang untuk membina dan memepertahankan gaya hidup yang bersih dan bebas obat-obatan
2.4.4. Penatalaksanaan Farmakologi
1.    Heroin
Program rumatan metadon berusaha menggantikan ketergantungan seseorang terhadap heroin dengan menggunakan metadon (atau narkotik sintetis lainnya) yang terkendali secara medis.
a.    Metadon memberikan keadaan noneuforik yang membebaskan individu ketergantungan dari kebutuhan fisiologis terhadap heroin
b.   Program metadon cukup kontroversial karena terkadang gagal memberikan keadaan bebas obat pada individu yang ketergantungan heroin.
2.    Alkohol
Saat ini terdapat beberapa alternatif farmakologi bagi alkoholik, misal : Disulfiram (Antabuse) dan Naltrekson (ReVia).
2.4.5. Dukungan Keluarga
1.    Terapi keluarga
Anggota keluarga dari seorang penyalahguna zat dianjurkan untuk mendefinisikan dan mempertahankan fungsi diri yang bertanggung jawab sehingga dapat mengurangi perilaku kodependen.
2.    Kelompok pendukung
Kelompok pendukung seperti Alanon, Alateen, dan Adult Children of Alcoholics, memberikan bantuan pada keluarga dengan program 12 langkah. Program-program ini berfokus pada anggota keluarga yang mengubah perilaku mereka sendiri dan bukan berusaha mengubah perilaku individu dengan masalah penyalahgunaan zat.
2.4.6. Pencegahan
Program pendidikan komunitas mempunyai target kelompok-kelompok yang rentan dan populasi umum. Sebagai contoh, anggota tim layanan kesehatan, termasuk perawat komunitas, yang menjadi pembicara dan menggunakan materi tertulis untuk penyuluhan
Unsur-unsur program pencegahan meliputi pengajaran tentang :
1.    Konsep penyalahgunaan dan ketergantungan zat, termasuk gejala dan tanda-tanda bahayanya.
2.    Konsekuensi dari penyalahgunaan zat dan dampak zat tersebut pada tubuh dan fungsi hidup secara umum.
3.    Pilihan-pilihan yang ada untuk memberikan bantuan dan pengobatan.
4.    Alternatif mekanisme koping untuk menghindari penyalahgunaan zat.



BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.       Pengkajian
3.1.1.      Identitas
1.    Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2.    Usia dan No. RM (Lihat RM)
3.    Alamat
4.    Pekerjaan
3.1.2.      Alasan masuk
Tanyakan kepada klien/keluarga :
1.    Apa yang menyebabkan klien/keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini?
2.    Bagaimana gambaran gejala tersebut ?
3.1.3.      Faktor Presipitasi / riwayat penyakit sekarang
1.    Tanyakan riwayat timbulnya gejala gangguan jiwa saat ini
2.    Tanyakan penyebab munculnya gejala tersebut.
3.    Apa saja yang sudah dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini ?
4.    Bagaimana hasilnya ?
3.1.4.      Faktor predisposisi
1.    Riwayat penyakit masa lalu
a.    Tanyakan kepada klien / keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu, bila ya beri tanda 3 pada kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak.
b.    Apabila pada poin 1 ya, maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya. Apabila dia dapat beradaptasi di masyarakat tanpa ada gejala-gejala gangguan jiwa maka beri tanda 3 pada kotak berhasil. Apabila dia dapat beradaptasi tapi masih ada gejala-gejala sisa maka beri tanda 3 pada kotak kurang berhasil. Apabila tidak ada kemajuan atau gejala-gejala bertambah atau menetap maka beri tanda 3 pada kotak tidak berhasil.
c.    Tanyakan apakah klien pernah mengalami gangguan fisik / penyakit termasuk gangguan pertumbuhan dan perkembangan
2.    Riwayat psikososial
a.    Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. Beri tanda 3 sesuai dengan penjelasan klien / keluarga apakah klien sebagai pelaku dan atau korban, dan atau saksi, maka beri tanda 4 pada kotak pertama. Isi usia saat kejadian pada kotak ke dua. Jika klien pernah mengalami pelaku dan jelas tentang kejadian yang dialami klien
b.    Tanyakan pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan baik bio, psiko, sosio, kultural, spiritual seperti (kegagalan, kehilangan / perpisahan / kematian, trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami klien pada masa lalu
c.    Bagaimana kesan kepribadian klien ?
3.    Riwayat penyakit keluarga
a.    Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga lainnya yang mengalami gangguan jiwa, jika ada beri tanda 3 pada kotak ya dan jika tidak beri tanda 3 pada kotak tidak. Apabila ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga terdekat. Tanyakan apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggota keluarga tersebut. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data
3.1.5.      Status mental
1.        Alam perasaan : khawatir (pada saat sakaw), gembira berlebihan (pada saat menyalahgunakan zat)
2.        Afek : labil
3.        Interaksi selama wawancara : curiga/paranoid terhadap pewawancara
4.        Persepsi : pasien berhalusinasi
5.        Mekanisme koping : maladaptif / menghindar / mencederai diri.
3.1.6.      Fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem fungsi organ :
1.    Ukur dan observasi tanda-tanda vital :  tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan klien.
2.    Ukur tinggi badan dan berat badan klien
3.    Tanyakan apakah, berat badan naik atau turun dan beri tanda 3 sesuai hasil.
4.    Tanyakan kepada klien / keluarga, apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien, bila ada beri tanda 3 di kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak.
5.    Kaji/lakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan sesuai dengan keluhan yang ada.
6.    Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada
3.1.7.      Pengkajian psikososial (sebelum dan sesudah)
1.    Konsep diri
2.    Genogram
3.    Hubungan sosial
4.    Spiritual
3.1.8.      Aktivitas sehari-hari
1.    Makan
a.    Observasi dan tanyakan tentang : frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka / tidak suka / pantang) dan cara makan.
b.    Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan
2.    BAB/BAK
a.    Observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK
3.    Mandi
a.    Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut)
b.    Observasi kebersihan tubuh dan bau badan
4.    Berpakaian
a.    Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki
b.    Observasi penampilan dandanan klien
c.    Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian
d.   Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih dan mengenakan pakaian
5.    Istirahat dan Tidur
a.    Observasi dan tanyakan tentang :
6.    Penggunaan Obat
Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang :
a.    Penggunaan obat : frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara pemberian.
b.    Reaksi obat
7.    Pemeliharaan Kesehatan
a.    Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang : apa, bagaimana, kapan dan kemana perawat lanjut dan siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman, instituisi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya
8.    Aktivitas di Dalam Rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam :
a.    Merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan.
b.    Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel)
c.    Mencuci pakaian sendiri
d.   Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari
9.    Aktivitas di luar Rumah
Tanyakan kemampuan klien
a.    Belanja untuk keperluan sehari-hari
b.    Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan berjalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum
c.    Aktivitas lain yang dilakukan di luar rumah (bayar listrik/telepon/air, kantor pos dan bank)
3.1.9.      Mekanisme koping
Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Beri tanda 3 pada kotak koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.
3.1.10.  Masalah psikososial dan lingkungan
3.1.11.  Kurang pengetahuan tentang
Aspek medik

2.3.1. Kokain
1.    Metode penggunaannya meliputi mengendus, merokok, atau injeksi.


 
2.    Efek langsung meliputi euforia, ansietas, marah, gangguan proses berfikir dan penilaian, kewaspadaan terlalu tinggi.
a.    Efek fisik yang lebih buruk meliputi takikardia, aritmia jantung, dilatasi pupil, peningkatan tekanan darah, konfusi dan kejang.
b.   Kematian dapat terjadi akibat aritmia jantung atau perdarahan intrakranial yang disebabkan oleh hipertensi yang parah.
3.    Efek kronis meliputi perforasi septum nasalis, kerusakan paru dan penyakit infeksi kronis (hepatitis B, C, D dan AIDS) yang disebabkan oleh tranmisi IV. Kokain menimbulkan euforia yang ekstrim dan karenanya dapat menyebabkan ketergantungan fisiologis setelah penggunaan awal.
4.    Pajanan terhadap janin
a.    Pajanan janin terhadap kokain pada trimester pertama berkaitan dengan kerusakan neurologik, yang menyebabkan terjadinya masalah belajar dan perilaku.
b.   Setelah dilahirkan, bayi-bayi tersebut mengalami pola tidur yang abnormal, tremor, kejang (kadang-kadang), iritabilitas, dan sulit makan.
5.    Gejala putus zat ini sama dangan gejala putus zat pada stimulan-stimulan yang lain.
2.3.2. Halusinogen
1.    Metode penggunaan dapat berupa oral. injeksi, rokok atau dihirup.
2.    Efek langsung meliputi persepsi yang menguat, termasuk respons yang meningkat terhadap warna, tekstur, dan suara.
a.    Ilusi dan halusinasi, ansietas dan depresi juga dapat terjadi. Beberapa obat dalam kelompok ini (misal; LSD, PCP) dapat menyebabkan dilatasi pupil dan takikardia
 
b.   Efek yang dihasilkan oleh zat ini tidak dapat diduga dan dapat berkaitan dengan obat dan dosis tertentu serta keadaan mental individu tersebut.
c.    Reaksi panik (“bad trip”) dicirikan dengan tingginya tingkat ansietas, ketakutan dna paranoia.
3.    Penggunaan kronis
a.    Kilas balik (misal; pengulangan penglaman halusinogenik yang singkat dan spontan yang terjadi selama zat tidak dikonsumsi), gangguan psikotik disertai waham, dan gangguan mood serta ansietas juga dapat terjadi bila zat ini digunakan sacara kronis.
b.   Penggunaan dan ketergantungan PCP dapat menyebabkan gejala seperti suka berkelahi, menyerang, perilaku impulsif, agitasi psikomotor, dan gangguan penilaian. Respons fisik meliputi hipertensi, takikardia, dan berkurangnya responsivitas terhadap nyeri.
4.    Gejala putus zat meliputi letargi, depresi dan kemungkinan serangan panik.
2.3.3. Kanabis
1.    Metode penggunaanya berupa oral atau rokok.


2.    Efek langsung meliputi perubahan persepsi sensorik, euforia, gangguan koordinasi, menarik diri secara sosial, iritasi konjungtiva, peningkatan nafsu makan, mulut kering, dan takikardia.
3.    Penggunaan kronis dapat mengakibatkan letargi dan depresi ringan; reaksi paranoid juga dapat terjadi.
a.    Penggunaan kronis dapat menyebabkan batuk kronis dan bertambahnya risiko penyakit paru kronis, seperti emfisema dan kanker.
b.   Berkurangnya kadar testosteron juga dapat terjadi.
c.    Kanabis menembus plasenta dan berkaitan dnegan berat badan lahir rendah dan kecilnya lingkar kepala.
4.    Bahan-bahan psikoaktif utama dalam kanabinoid adalah tetra-hidrokanabinol (THC). Penggunaan paling bermanfaat dari obat ini adalah untuk mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi.
5.    Gejala putus zat meliputi gelisah, iritabilitas, insomnia, tremor dna mual. Pengobatan gejala putus obat biasanya bersifat suportif.

2.1.       Terapi Penanganan
2.4.1. Pertimbangan Umum
Keputusan pengobatan, termasuk asuhan yang direkomendasikan, bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi klien, antara lain :
1.    Jenis zat yang disalahgunakan dan keparahan ketergantungan
2.    Risiko gejala putus obat
3.    Fungsi sosial dan okupasi saat ini
4.    Jumlah kekambuhan sebelumnya
5.    Kemauan klien untuk menerima pertolongan






 
2.4.2. Program Rumah Sakit atau Residensial
Program-program ini biasanya dianjurkan bagi pasien dengan ketergantungan yang berat terhadap zat atau gagal dalam program rehabilitas berbasis komunitas. Pengobatan lanjutan direkomendasikan setelah pengobatan rawat inap di rumah sakit.
Jenis-jenis program yang dianjurkan bagi pasien yaitu :
1.    Unit detokxifikasi medis
Terdapat di rumah sakit komunitas, menyediakan pelayanan detoksifikasi selama beberapa hari sampai seminggu. Klien lalu dirujuk ke program residensial lainnya atau program lanjutan berbasis komunitas.
2.    Unit ketergantungan obat
Terdapat di rumah sakit jiwa atau pusat perawatan residensial khusus. Program jangka pendek (3 sampai 6 minggu) memberikan pengobatan yang biasanya didasarkan pada program 12 langkah (misal seperti yang direkomendasikan oleh Alcoholics Anonymous [AA] dan Narcotics Anonymous [NA]).
3.    Program residensial jangka panjang
Direkomendasikan (3 sampai 6 bulan) untuk individu dengan riwayat penyalahgunaan zat yang sudha lama dan multimasalah akibat dari penyalahgunaan tersebut. Program ini memberikan lingkungan komunitas yang terapeutik untuk mengobati penyalahgunaan dan melatih berbagai keterampilan hidup.
2.4.3. Program Berbasis Komunitas
Saat ini lebih banyak terdapat di lingkungan managed care, yang menekankan efisiensi biaya dan perawatan di lingkungan yang paling tidak restriktif.
1.    Program hospitalisasi parsial
Memberi perawatan sampai 20 jam perminggu, dengan dukungan dan penyuluhan kelompok yang terapeutik tentang kecanduan zat, keterampilan koping dan pembentukan harga diri.
2.    Konseling rawat jalan
Diberikan oleh ahli terapi, program terapi kelompok, atau konselor obat dan alkohol tertentu dipekerjakan oleh klinik obat dan alkohol setempat atau pusat kesehatan jiwa.
3.    Kelompok swadaya
Seperti AA dan NA, memberikan bimbingan dan program spesifik yang dirancang untuk membina dan memepertahankan gaya hidup yang bersih dan bebas obat-obatan
2.4.4. Penatalaksanaan Farmakologi
1.    Heroin
Program rumatan metadon berusaha menggantikan ketergantungan seseorang terhadap heroin dengan menggunakan metadon (atau narkotik sintetis lainnya) yang terkendali secara medis.
a.    Metadon memberikan keadaan noneuforik yang membebaskan individu ketergantungan dari kebutuhan fisiologis terhadap heroin
b.   Program metadon cukup kontroversial karena terkadang gagal memberikan keadaan bebas obat pada individu yang ketergantungan heroin.
2.    Alkohol
Saat ini terdapat beberapa alternatif farmakologi bagi alkoholik, misal : Disulfiram (Antabuse) dan Naltrekson (ReVia).
2.4.5. Dukungan Keluarga
1.    Terapi keluarga
Anggota keluarga dari seorang penyalahguna zat dianjurkan untuk mendefinisikan dan mempertahankan fungsi diri yang bertanggung jawab sehingga dapat mengurangi perilaku kodependen.
2.    Kelompok pendukung
Kelompok pendukung seperti Alanon, Alateen, dan Adult Children of Alcoholics, memberikan bantuan pada keluarga dengan program 12 langkah. Program-program ini berfokus pada anggota keluarga yang mengubah perilaku mereka sendiri dan bukan berusaha mengubah perilaku individu dengan masalah penyalahgunaan zat.
2.4.6. Pencegahan
Program pendidikan komunitas mempunyai target kelompok-kelompok yang rentan dan populasi umum. Sebagai contoh, anggota tim layanan kesehatan, termasuk perawat komunitas, yang menjadi pembicara dan menggunakan materi tertulis untuk penyuluhan
Unsur-unsur program pencegahan meliputi pengajaran tentang :
1.    Konsep penyalahgunaan dan ketergantungan zat, termasuk gejala dan tanda-tanda bahayanya.
2.    Konsekuensi dari penyalahgunaan zat dan dampak zat tersebut pada tubuh dan fungsi hidup secara umum.
3.    Pilihan-pilihan yang ada untuk memberikan bantuan dan pengobatan.
4.    Alternatif mekanisme koping untuk menghindari penyalahgunaan zat.



BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.       Pengkajian
3.1.1.      Identitas
1.    Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2.    Usia dan No. RM (Lihat RM)
3.    Alamat
4.    Pekerjaan
3.1.2.      Alasan masuk
Tanyakan kepada klien/keluarga :
1.    Apa yang menyebabkan klien/keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini?
2.    Bagaimana gambaran gejala tersebut ?
3.1.3.      Faktor Presipitasi / riwayat penyakit sekarang
1.    Tanyakan riwayat timbulnya gejala gangguan jiwa saat ini
2.    Tanyakan penyebab munculnya gejala tersebut.
3.    Apa saja yang sudah dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini ?
4.    Bagaimana hasilnya ?
3.1.4.      Faktor predisposisi
1.    Riwayat penyakit masa lalu
a.    Tanyakan kepada klien / keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu, bila ya beri tanda 3 pada kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak.
b.    Apabila pada poin 1 ya, maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya. Apabila dia dapat beradaptasi di masyarakat tanpa ada gejala-gejala gangguan jiwa maka beri tanda 3 pada kotak berhasil. Apabila dia dapat beradaptasi tapi masih ada gejala-gejala sisa maka beri tanda 3 pada kotak kurang berhasil. Apabila tidak ada kemajuan atau gejala-gejala bertambah atau menetap maka beri tanda 3 pada kotak tidak berhasil.
c.    Tanyakan apakah klien pernah mengalami gangguan fisik / penyakit termasuk gangguan pertumbuhan dan perkembangan
2.    Riwayat psikososial
a.    Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal. Beri tanda 3 sesuai dengan penjelasan klien / keluarga apakah klien sebagai pelaku dan atau korban, dan atau saksi, maka beri tanda 4 pada kotak pertama. Isi usia saat kejadian pada kotak ke dua. Jika klien pernah mengalami pelaku dan jelas tentang kejadian yang dialami klien
b.    Tanyakan pengalaman masa lalu lain yang tidak menyenangkan baik bio, psiko, sosio, kultural, spiritual seperti (kegagalan, kehilangan / perpisahan / kematian, trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami klien pada masa lalu
c.    Bagaimana kesan kepribadian klien ?
3.    Riwayat penyakit keluarga
a.    Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga lainnya yang mengalami gangguan jiwa, jika ada beri tanda 3 pada kotak ya dan jika tidak beri tanda 3 pada kotak tidak. Apabila ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga terdekat. Tanyakan apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggota keluarga tersebut. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data
3.1.5.      Status mental
1.        Alam perasaan : khawatir (pada saat sakaw), gembira berlebihan (pada saat menyalahgunakan zat)
2.        Afek : labil
3.        Interaksi selama wawancara : curiga/paranoid terhadap pewawancara
4.        Persepsi : pasien berhalusinasi
5.        Mekanisme koping : maladaptif / menghindar / mencederai diri.
3.1.6.      Fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem fungsi organ :
1.    Ukur dan observasi tanda-tanda vital :  tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan klien.
2.    Ukur tinggi badan dan berat badan klien
3.    Tanyakan apakah, berat badan naik atau turun dan beri tanda 3 sesuai hasil.
4.    Tanyakan kepada klien / keluarga, apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien, bila ada beri tanda 3 di kotak ya dan bila tidak beri tanda 3 pada kotak tidak.
5.    Kaji/lakukan pemeriksaan fisik lebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan sesuai dengan keluhan yang ada.
6.    Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada
3.1.7.      Pengkajian psikososial (sebelum dan sesudah)
1.    Konsep diri
2.    Genogram
3.    Hubungan sosial
4.    Spiritual
3.1.8.      Aktivitas sehari-hari
1.    Makan
a.    Observasi dan tanyakan tentang : frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka / tidak suka / pantang) dan cara makan.
b.    Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan
2.    BAB/BAK
a.    Observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK
3.    Mandi
a.    Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut)
b.    Observasi kebersihan tubuh dan bau badan
4.    Berpakaian
a.    Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki
b.    Observasi penampilan dandanan klien
c.    Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian
d.   Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien : mengambil, memilih dan mengenakan pakaian
5.    Istirahat dan Tidur
a.    Observasi dan tanyakan tentang :
6.    Penggunaan Obat
Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang :
a.    Penggunaan obat : frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara pemberian.
b.    Reaksi obat
7.    Pemeliharaan Kesehatan
a.    Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang : apa, bagaimana, kapan dan kemana perawat lanjut dan siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman, instituisi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya
8.    Aktivitas di Dalam Rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam :
a.    Merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan.
b.    Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel)
c.    Mencuci pakaian sendiri
d.   Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari
9.    Aktivitas di luar Rumah
Tanyakan kemampuan klien
a.    Belanja untuk keperluan sehari-hari
b.    Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan berjalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum
c.    Aktivitas lain yang dilakukan di luar rumah (bayar listrik/telepon/air, kantor pos dan bank)
3.1.9.      Mekanisme koping
Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Beri tanda 3 pada kotak koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.
3.1.10.  Masalah psikososial dan lingkungan
3.1.11.  Kurang pengetahuan tentang 
3.1.12. Aspek medik


3.1.       Pohon Masalah

         ~ BIKIN SENDIRI YHAA! :D ~


3.2.       Diagnosa Keperawatan
1.    Resti mencederai diri sendiri dan orang lain
2.    Gangguan persepsi sensori (penglihatan, pendengaran)
         3.   Koping individu

NO DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
PERENCANAAN
INTERVENSI
RASIONAL
TUJUAN
KRITERIA EVALUASI
2
Perubahan persepsi sensori: halusinasi pengelihatan
SP1: membantu klien mengenal halusinasinya



















































1.Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat dan orang lain
·      klien dapat menyebut nama
·       klien dapat menyebutkan alamatnya
·      Ekspresi wajah bersahabat menunjukkan rasa senang







2. Klien dapat mengenal halusinasinya

·         Klien dapat menyebutkan jenis
·         Klien dapat menyebutkan isi
·         Klien dapat menyebutkan frekuensi
·         Klien dapat menyebutkan situasi yang menimbulkan halusinasinya




3. Melatih klien cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik







1.    Sapa klien dengan salam terapeutik
2.    Perkenalkan (nama lengkap dan nama panggilan )alamat
3.    Tanyakan nama(nama lengkap dan nama panggilan) serta alamat klien
4.    Jelaskan tujuan pertemuan
5.    Tunjukkan sikap empati

1.mengidentifikasi jenis halusinasi
2.mengidentifikasi isi halusinasi klien
3.mengidentifikasi waktu halusinasi
4.mengidentifikasi frekuensi halusinasi
5.mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi klien
6.mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi


1.melatih klien cara control halusinasi dengan cara menghardik
2.membimbing klien memasukkan jadwal kegiatan harian


·       hubungan saling percaya dengan perawat dan klien dapat meningkatkan kooperatif antara klien dan perawat

















·         Memungkinkan klien mengenal stimjulis dari luar yang dapat menimbulkan halusisnasi

















·         Meningkatkan pengetahuan klien dalam mengontrol halusisnsinya









SP2: Membantu klien mengenal halusinasinya

Klien dapat dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengotrol halusinasinya

.emvalidasi  masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih klien cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap
3. Membimbing klien memasukkan jadwal dalam kegiatan harian

·         Mengevaluasi masalah dan tindakan sebelumnya
·         Berbincang-bincang/bercakap-cakap dapat mengalihkan pemikiran klien dalam berhalusinasi
·         Memudahkan klien dalam melakukan kegiatan (jadwal harian) yang sesuai



SP3: Melatih klien cara mengontrol halusinasi dengan cara kegiatan

Klien mngerti tentang cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan

1. Memvalidasi  masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih klien cara mengontrol halusinasi dengan kegiatan yang dilakukan klien
3. Membimbing klien memasukkan jadwal dalam kegiatan harian

·         Mengevaluasi masalah dan tindakan sebelumnya
·         Melakukan suatu kegiatan dapat mengalihkan perhatian klien/halusinasi klien
·         Memudahkan klien dalam melakukan kegiatan (jadwal harian) yang sesuai



SP4: Melatih klien dalam pemanfaatan obat/ cara klontrol halusianasi

Klien mengerti dan dapat mendemonstrasikan tentang cara mengontrol halusinasu dengan pemanfaatan obat

1. Memvalidasi  masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih klien cara kontrol dengan teratur minum obat
3. Membimbing klien memasukkan jadwal dalam kegiatan harian

·         Mengevaluasi masalah dan tindakan
·         Meningkatkan pengetahuan klien tentang cara kontrol halusinasi dengan minum obat



SP1 KELUARGA: HE tentang pengertian, tanda gejala dan cara merawat klien dengan halusinasi

Klien mengerti dan dapat mendemonstrasikan tentang perawatan klien dengan halusinasi

1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi yang dialami klien beserta proses terjadinya
3. Menjelesakan cara merawat klien dengan halusinasi

·         Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang halusinasi



SP2 KELUARGA: Melatih keluarga dalam mempraktekkan marawat klien cara merawat klien langsung didepan klien

Klien dapat dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengotrol halusinasinya

1. Melatih keluarga cara merawat klien dengan halusinasi
2. Melatih keluarga cara merawat klien langsung didepan klien

·         Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang halusinasi



SP3 KELUARGA:Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Keluarga mengerti tentang perawatan klien dengan halusinasi, terutama minum obat
1. Membatu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (Discharge planning)
2.Menjelaskan follow up setelah pulang
·         Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang halusinasi

  

DAFTAR PUSTAKA
Anonymus. 2011. Asuhan Keperawatan Klien dengan NAPZA.  http://ners-blog.blogspot.com/2011/10/asuhan-keperawatan-klien-dengan_3156.html diakses tanggal 3 Maret 2013 pukul 20 : 00 WIB
Isaacs, Ann. 2004. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. EGC : Jakarta.
Maramis, Willy F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press : Surabaya
Puskesmas Peusang. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Pengguna NAPZA. http://puskesmas-peusangan.blogspot.com/2008/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-gangguan.html Diakses tanggal 4 Maret 2013 pukul 01 : 11 WIB
Zainal. 2007. NAPZA (Narkotika, Psikotropika dna Zat Adiktif). http://zenc.wordpress.com/2007/06/13/napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-aditif/ Diakses tanggal 1 Maret 2013 pukul 22 : 00 WIB

1 komentar:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - JTA Hub
    Borgata Hotel 보령 출장샵 Casino & Spa. 김해 출장마사지 $2.00/night. Room with tax. 30. (30) 서산 출장안마 square feet. Borgata offers 나주 출장샵 1,800 slots and 사천 출장안마 electronic table games. Borgata

    BalasHapus

terima kasih atas kunjungannya..
semoga bermanfaat.. :)