Jumat, 20 Juli 2012

DEMAM TYPOID


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
       Demam typhoid merupakan permasalahan kesehatan penting dibanyak Negara berkembang.Secara global,diperkirakan 17  juta  orang  mengidap penyakit ini tiap tahunnya. Di Indonesia diperkirakan insiden demam typhoid  adalah  300 – 810 kasus per100.000    penduduk  pertahun, dengan angka  kematian   2%. Demam typhoid  merupakan   salah   satu   dari penyakit infeksi terpenting.Penyakit ini di seluruh daerah di provinsi ini merupakan penyakit infeksi terbanyak keempat yang dilaporkan dari seluruh  24   kabupaten.Di Sulawesi Selatan melaporkan demam typhoid melebihi 2500/100.000 penduduk (Sudono, 2006).
      Demam tifoid atau typhus abdominalls adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Typhi dengan   masa   tunas   6-14   hari.Demam tifoid yang tersebar diseluruh dunia tidak tergantung   pada   iklim. Kebersihan   perorangan   yang   buruk   merupakan sumber dari penyakit ini meskipun lingkungan hidup umumnya adalah baik. Di Indonesia penderita Demam Tifoid  cukup    banyak    diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi  terutama   pada   musim    panas.   Demam tifoid dapat  ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar, umur 5- 9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2- 2:3.
      Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia seseorang mulai dapat   mengkonsumsi makanan dari luar,apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi  kurang    bersih. Biasanya baru dipikirkan   suatu demam   tifoid   bila   terdapat   demam   terus-menerus   lebih   dari   1   minggu   yang  tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat dengan kesan anak baring pasif, nampak pucat, sakit perut, tidak buang air besar atau diare beberapa hari (Bahtiar Latif, 2008).


1.2  Identifikasi Masalah
      Berdasarkan latar belakang  dan  judul   makalah  di  atas   dapat diidentifikan   masalah   keperawatan demam thypoid  mulai dari pengkajian, riwayat kesehatan, pola fungsional,  pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang berguna untuk  menunjang  dalam    pemberian asuhan  keperawatan.Asuhan keperawatan  ditentukan   berdasarkan   data   focus   yang diperoleh dari keluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien dan keluarga. Dari   keluhan      yang dapat digunakan  untuk menentukan  prioritas  masalah  keperawatan yang muncul, menentukan intervensi, implementasi keperawatan dan mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.

1.3  Tujuan
1.      Tujuan umum
Untuk   mengetahui   seluk   beluk   tentang   demam   thypoid   pada   para pembaca sehingga dapat menjadi referensi untuk pembelajaran atau upaya preventif mencegah penyakit demam thypoid.

2.      Tujuan khusus
1.  Mengetahui   pengkajian   pada   pasien   dengan   gangguan   sitem   pencernaan demam tifoid
2. Mengetahui cara menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan demam tifoid.
3.  Dapat    Mengetahui    cara  membuat     rencana   tindakan   keperawatan    pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan demam tifoid
4.  Dapat    Mengetahui    cara  keperawatan    dan   mengevaluasi    pasien  dengan gangguan sistem pencernaan demam tifoid
     




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan fisiologi











Gambar 1. Anatomi system pencernaan

            Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal (mulai dari  mulut sampai  anus)  adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi  dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.Saluran pencernaan terdiri dari mulut,tenggorokan(faring), kerongkongan, lambung, usus halus,usus besar, rectum dan anus.Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ  yang terletak di luar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
2.1.1        Usus Halus (usus kecil)





                                Gambar 2 . Usus halus
            Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh   darah   yang   mengangkut   zat-zat   yang   diserap   ke   hati   melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus   juga  melepaskan      sejumlah     kecil  enzim    yang   mencerna protein, gula dan lemak.
            Lapisan usus halus meliputi,lapisan mukosa  (sebelah   kanan), lapisan  otot   melingkar     (M sirkuler), lapisan otot memanjang (M longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).  Usus halus terdiri  dari tiga bagian yaitu   usus   dua  belas    jari duodenum), usus kosong (jejenum) dan usus penyerapan (ileum).
            Villi   usus   halus   terdiri   dari pipa   berotot   (>   6   cm),   pencernaan secara    kimiawi,  penyerapan makanan. Terbagi atas usus 12  jari (duodenum), usus tengah (jejenum), usus penyerapan (ileum).
2.1.2        Usus Besar (Kolon)







Gambar 3. Usus besar
            Usus   besar   atau   kolon   dalam   anatomi   adalah   bagian   usus   antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.   Usus besar  terdiri dari  kolon   asendens   (kanan),  kolon  transversum, kolon     desendens     (kiri),  kolon sigmoid (berhubungan  dengan   rectum) Banyaknya   bakteri   yang   terdapat   didalam usus besar berfungsi mencerna makanan beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri didalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting seperti   vitamin   K.  
            Bakteri   ini  penting  untuk fungsi normal   dari  usus.  Beberapa  penyakit  serta  antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam ususbesar.  Akibatnya terjadi  iritasi  yang  bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
2.1.3        Usus Buntu (sekum)
Gambar 4. Usus buntu
            Usus    buntu    atau  sekum    (Bahasa    Latin  :  caecus,   “buta”)   dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon   menanjak dari usus besar.Organ  ini  ditemukan   pada mamalia,  burung, dan beberapa    jenis  reptil.  Sebagian    besar   herbivore memiliki   sekum   yang   besar,   sedangkan   karnivora   ekslusif   memiliki   yang  kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
2.1.4        Umbai Cacing (Appendix)
Gambar 5. Appendix

            Umba cacing  atau  apendiks adalah organ  tambahan pada   usus buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah    dapat menyebabkan  apendiks  pecah dan membentuk nanah didalam rongga    abdomen     atau   peritonitis  (infeks  rongga abdomen)
2.1.5        Rektum dan Anus
Gambar 6. Rectum 
            Rektum  adalah  sebuah  ruangan yang berawal  dari   usus   besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai  tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja   disimpang   ditempat   yang   lebih   tinggi,   yaitu   pada   kolon   desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul  keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rectum karena   penumpukan   material   didalam   rectum   akan   memicu   sistem   saraf yang    menimbulkan       keinginan    untuk   melakukan  defekasi.   Jika  defekasi tidak terjadi, seringkali material akan dikembalikan ke usus besar, dimana penyerapan   air   akan   kembali   dilakukan. Jika   defekasi   tidak   terjadi   untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.



2.2 Devinisi demam Tifoid
            Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikro abses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
            Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
            Tifoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, Tifoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).
            Dari beberapa   pengertian   di   atas   dapat   disimpulkan  bahwa   Demam  Typhoid   adalah   suatu  penyakit   infeksi  usus   halus yang di sebabkan oleh Salmonella Typi atau salmonella paratypi A,B,C yang dapat menular melalui oral, fekal,makanan  dan  minuman  yang   terkontaminasi  dengan disertai gangguan sistem pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

2.3 Epidemiologi
            Cara penyebaran demam tifoid sangat berbeda di negara maju dengan negara berkembang. Dimana dinegara maju insidensi sangat menurun sekali. Di negara yang sedang berkembang Salmonella typhosa sering merupakan isolate salmonella yang paling sering dengan insidens yang dapat mencapai 0,5% dan dengan angka mortalitas yang tinggi. Di Indonesia jarang terdapat dalam keadaan endemik. Penderita anak yang ditemukan biasanya berumur di atas 1tahun. Sebagian besar dari penderita (80%)yang dirawat di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Anak FKUI-RSCM Jakarta berumur diatas 5 tahun. Insiden penyakit ini tidak berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan.

2.4 Etiologi
            Menurut   Rampengan   dan   Laurent   (1993)   penyakit   ini   di   sebabkan oleh   tiga   spesies   utama   yaitu   Salmonella   typosa   (satu   serotip),   Salmonella Choleraesius      (satu   serotip),  dan   Salmonella     Enteretidis   (lebih   dari   1500 serotip). Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu    yang    lebih  rendah   sedikit   serta  mati   pada   suhu   700C   maupun     oleh antiseptik.  
2.5  Patofisiologi & pathway
            Kuman salmonella masuk bersama makanan/minuman. Setelah berada dalam usus halus kemudian mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrose setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah menuju organ Retikulo endoteliat system terutama hati dan limfa. Ditempat ini kuman difagosit oleh sel sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit akan berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi Demam tifoid (5-9 hari) kuman kembali masuk ke darah kemudian menyebar ke seluruh tubuh dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yangs elanjutnya kuman tersebut kembali dikeluarkan dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus



Woc
                


2.6 Gejala Klinis
            Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
            Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;
2.6.1        Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
2.6.2        Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
2.6.3        Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
2.6.4        Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
2.6.5        Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
2.6.6        Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.
2.7 Komplikasi
            Demam Typhoid merupakan penyakit yang memberikan gejala lokal sistemik.Selain   gambaran   klinis   yang   telah   di   uraikan   di   atas   dapat   terjadi gambaran lain yang tidak biasa. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada Demam Typhoid antara lain:
2.7.1         Usus halus
            Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal yaitu :
1)      Perdarahan usus bila  sedikit hanya ditemukan jika   dilakukan pemeriksaan   tinja dengan benzidin.Bila perdarahan banyak   terjadi melena  dan   bila   berat   dapat   disertai   perasaan   nyari   perut   dengan tanda-tanda renjatan
2)      Perforasi usus biasanya timbul pada minggu ketiga yang terjadi pada distal ileum.  Perforasi yang tidak di sertai peritonitis hanya dapat di temukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang   dan   terdapat   udara   di   antara   hati   dan   diafragma   pada foto rontsen abdomen yang di buat dalam keadaan tegak.
2.7.2         Diluar usus
1)   Manifestasi Pulmonal seperti Bronkitis dan pneumonia yang merupakan infeksi   sekunder
2)   Komplikasi Hematologis
                           Depresi sumsum tulang tulang belakang yang toksik pada    penderita dengan        manifestasi   yang   berat,   menyebabkan           anemia,  neutropenia, granulositopenia,   dan   trombositopeni.Anemia            hemotolik   akut   di tandai                 dengan penurunan haemoglobin  secara         tiba-   tiba  tanpa adanya perdarahan di sertai hemoglobinuria.
3)   Manifestasi Neuropsikiatri
                    Manifestasi neuropsikiatri seperti sakit kepala, meningismus,            sampai gangguan         kesadaran (Disorientasi, delirium, stupor,       koma). Delirium merupakan   kejadian           yang paling sering terjadi,          dapat   berkembang menjadi     enselopati,    keadaan ini  membaik             4-5   hari  tetapi   sering menetap   sampai   suhu       tubuh dan fungsi         metabolic   kembali   normal. Dilaporkan juga  terjadinya       shizofrenia.
4)    Manifestasi Kardiovaskuler
                    Myokarditis  di  temukan pada 1-5  %penderita Demam       Typhoid.  Manifestasi           klinis   bervariasi   mulai   asimtomatik           sampai   nyeri   dada, payah jantung, aritmia, atau syok kardiogenik.
5)    Manifestasi Hepatobilier
                    Ditandai   dengan   peningkatan   SGOT   dan   SGPT.         Koleisistisis   akut dan         ikterus di dapatkan pada 1-5 % kasus.
6)    Manifestasi Urogenital
                    Sebanyak 25 % penderita Demam Typhoid pernah    mengekskresi S.typi dalam air kemih selama masa sakitnya.         Kelainan yang paling sering di temukan adalah proteinuri     yangbersifat sederhana.Proteinuri ada sebagian kasus  di sebabkanoleh            kompleks  imun yang  mengakibatkan glomerulonefritis.Urin selain          mengandung albumin  dalam   jumlah    kecil  juga   di  dapati   sedikit          peningkatan elemen seluler. Manifestasi lain yang mungkin terjadi               adalah sindroma nefritik, sistisis, pielonefritis, dan gagal ginjal.
7)    Komplikasi lain
        Manifestasi     lain  yang    di  temukan    adalah   parotitis, otitis  media, uveitis,    arthritis, pancreatitis, orkitsa, alopesia (Soegijanto, 2002).

2.8              Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap
            Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit      normal. Leukositosis dapat terjadi  walaupun tanpa disertai infeksi sekunder.
2.      Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus.
3.      Pemeriksaan Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu:
a.       Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri
b.      Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri
c.       Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.

Penata laksanaan
2.8.1        Perawatan.
A.    Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
B.     Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
2.8.2        Diet.
A.    Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
B.      Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
C.     Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
D.    Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
2.8.3        Obat-obatan.
A.    Klorampenikol
          Keuntungannya adalah dapat menurunkan panas dengan cepat, harga murah,masa toksik lebih singkat, gejala / keluhan lebih cepat hilang, menurunkankomplikasi.Indikasi penggunaan kloramfenikol adalah :
1.Typus yang pertama, bukan yang relaps / karier 
2.Tidak ada pensitopeni
3.Lekosit > 3000 / mm4.Wanita tidak hamil (karena dapat sebabkanGray Baby Sindrom)Dosis yang dianjurkan adalah 50-100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3 dosis.Jika tidak bisa peroral maka diberikan secara iv dengan dosis 50 mg, neonates
B.     Tiampenikol
        Mempunyai efek yang sama dengan kloramfenikol,   mengingat susunankimianya hampir sama, hanya komplikasi hematogen pada tiamfenikol lebih jarang dilaporkan.Dosis oral yang dianjurkan 50-100 mg/KgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.Indikasi untuk pengobatan demam tifoid relaps / karier (sebab disekrasikanlewat empedu dalam bentuk aktif)
C.     Kotrimoxazol
            Efektifitasnya terhadap demam tyiphoid masih banyak yang controversial. kelebihan kotrimoxaol antara lain dapat digunakan dapat digunakan untuk kasus yangresisten terhadap kloramfenikol.Penyerapan di usus cukup baik, kemungkinantimbulnya kekambuhan pengobatan lebih kecil dibandingkan kloramfenikol. Kelemahan obat ini adalah terjadinya skin rash (1-5%),Stevent Jhonson Sindrom, Agranulositosis, Trombositopeni, Megaloblastik anemia. Hemolisiseritrosit terutama pada penderita defesiensi G6PD. Dosis oral obat ini adalah 30-40 mg/Kg/KgBB/hari untuk trimetroprim,diberikan dalam 2 kali pemberiaan.
D.    Amoxilin dan ampicillin
        Ampisilin utamanya lebih lambat menurunkan demam bila dibandingkandengan klorampenikol, tetapi lebih efektif untuk mengobati karier serta kurngtoksik.Kelemahannya dapat terjadi skinrash(3-18%),diare (11%).Amoksisilin mempunyai daya anti bakteri yang sama dengan ampisilin, tetapi penyerapan per oral lebih baik, sehingga kadar obat yang mencapai 2 kalilebih tinggi, timbulnya kekambuhan lebih sedikit (2-5%) dan karier (0-5%).Dosis yang dilanjutkan pada obat ini adalah :-Ampisilin 100-200 mg/kgBB/hari
-Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari           

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3. 1 Pengkajian
1.  Identitas
            Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no.        registrasi,   status   perkawinan,   agama,   pekerjaan,   tinggi   badan,   berat badan,      tanggal masuk RS.
2.  Riwayat kesehatan
a.  Keluhan utama
            Pada    pasien   Thypoid    biasanya    mengeluh     perut  merasa   mual    dan                                 kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.
b.      Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
c.       Riwayat penyakit sekaranng
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah  demam, anorexia,   mual,   muntah,   diare,   perasaan   tidak   enak  di   perut,   pucat (anemia),      nyeri   kepala   pusing,    nyeri   otot,  lidah   tifoid  (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
d.      Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada  yang pernah menderita Thypoid atau sakit lainnya.
3.  Pola-pola Fungsi Kesehatan
a.  Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
     Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam      kesehatannya.
b.  Pola nutrisi dan metabolisme
     Adanya  mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit,lidah  kotor,  dan  rasa     pahit  waktu  makan  sehingga  dapat mempengaruhi status nutrisi tubuh.
c.  Pola aktifitas dan latihan
     Pasien   akan   terganggu   aktifitasnya   akibat   adanya   kelemahan   fisik  serta pasien     akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
e.       Pola istirahat dan tidur
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
4.  Pemeriksaan Fisik
a.  Keadaan umum
     Didapatkan     klien    tampak    lemah,     suhu    tubuh    meningkat  380– 410  C, muka     kemerahan.
b.  Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).
c.  Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.
d.  Sistem kardiovaskuler
     Terjadi    penurunan     tekanan    darah,   bradikardi    relatif,  hemoglobin rendah.
f.       Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual,   muntah,   anoreksia,   dan   konstipasi,   nyeri   perut,   perut   terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
g.      Sistem muskuloskeletal
 Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h.  Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak   serta   nyeri   tekan   pada   abdomen.  Pada   perkusi   didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.

3.2    Diagnosa keperawatan
3.2.1  Hipertermi berhubungan dengan infasi kuman ke usus
3.2.2 Perubahan     nutrisi  kurang   dari  kebutuhan    tubuh   berhubungan     infeksi pada usus halus
3.2.3 Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan kerusakan mukosa usus
3.2.4 Resiko    tinggi  kurang   volume    cairan  berhubungan     dengan    kehilangan cairan   sekunder    terhadap   diare,  kurangnya   intake   cairan,  peningkatan suhu tubuh
3.2.5 Gangguan   eliminasi:   Diare   berhubungan   dengan   inflamsi,   iritasi,   atau malabsorbsi usus, adanya toksin, adanya penyempitan segmentasi lumen.
3.2.6      Gangguan       eliminasi     konstipasi    berhubungan      dengan     penurunan
peristaltik ususIntoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

3.4 Intervensi Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan infasi kuman ke usus
a.  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu tubuh dalam batas normal.
b.  Rencana tindakan
            1)   Pantau suhu pasien (derajat dan pola) perhatikan menggigil.
     Rasional    :  suhu  38,9-41,1’C   menunjukan     proses   penyakit infeksius.
 2)   Pantau   suhu   lingkungan,   batasi/tambah    linen  tempat tidur,sesuai indikasi.
Rasional : Suhu lingkungan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
3)   Berikan kompres mandi hangat , hindari penggunaan alkohol
Rasional : Dapat membantu mengurangi demam. (penggunaan alcohol/air es mungkin menyebabkan peningkatan suhu secara actual
4)   Kolaborasi pemberian antipiretik
  Rasional   :   Digunakan   untuk   mengurangi   demam   untuk   aksi sentralnya pada hipotalamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi    pertumbuhanorganisme, dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi.
2.  Pemenuhan    nutrisi  kurang  dari  kebutuhan   tubuh  berhubungan    infeksi pada usus halus
a.  Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
b.  Rencana tindakan:
1)   Timbang berat badan setiap hari
Rasional    :  Memberikan       informasi   tentang    kebutuhan diet/keefektifan terapi
2)   Dorong tirah baring dan atau pembatasan aktivitas selama fase akit akut
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolic untuk mencegah penurunan kalori dan      simpanan energi.
3)   Anjurkan istirahat sebelum makan.
Rasional   :Menenangkan     peristaltic,  dan  meningkatkan    rasa makanan.
4)   Berikan kebersihan oral
       Rasional    :  Mulut   yang   bersih  dapat   meningkatkan     rasa makanan.
5)   Sediakan    makanan    dalam   ventilasi  yang  baik,  lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru, temani.
       Rasional : Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan.
6)   Batasi   makanan     yang   dapat   menyebabkan      kram    abdomen, flatus.
Rasional : Mencegah serangan akut/eksaserbasi gejala.
7)   Catat masukan dan perubahan simtomatologi.
Rasional     :  Memberikan       rasa   control   pada    pasien    dan kesempatan       untuk    memilih     makanan      yang    diinginkan/ dinikmati, dapat meningkatkan masukan
8)   Dorong     pasien   untuk   menyatakan     perasaan    masalah    mulai makan diet.
Rasional   :   Keragu-raguan   untuk   makan   mungkin   diakibatkan oleh takut makanan akan menyebabkan eksaserbasi gejala.
9)   Pertahankan puasa sesuai indikasi.
       Rasional    :  Istirahat  usus  menurunkan      peristaltic  dan  diare dimana menyebabkan malabsorsi/kehilangan nutrient.
10) Kolaborasi nutrisi pareneral total, terapi IV sesuai indikasi.
       Rasional : program inii mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan nutisi penuh.
3.  Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan kerusakan mukosa usus
a.  Tujuan    :  Setelah  dilakukan    tindakan   keperawatan     rasa  nyaman terpenuhi
b.  Rencana tindakan :
1)   Dorong pasien untuk melaporkan nyeri
Rasional  :  Mencoba    untuk    mentoleransi    nyeri,   dari  pada meminta analgetik
2)   Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas. Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.
Rasional    :  Nyeri   kolik  hilang   timbul   pada   penyakit   crohn. Nyeri   sebelum defekasi   sering   terjadi   pada   KU   dengan   tiba- tiba,   dimana   dapat   berat   dan terus-menerus.perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukan         penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi.
3)   Catat   petunjuk   non   verbal,   gelisah,   menolak   untuk   bergerak, berhati-hati     dengan    abdomen,      menarik     diri,  dan   depresi. Selidiki perbedaan petunjuk verbal dan non verbal.
Rasional    :  Bahasa    tubuh/petunjuk     non   verbal   dapat   secara psikologis    dan fisiologis dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/beratnya masalah.
4)    Kaji  ulang faktor-faktor  yang  meningkatkan  atau menghilangkan nyeri.
Rasional : Dapat menunjukan dengan tepat pencetus dan factor pemberat   seperti   stress,   tidak   toleran   terhadap   makanan   atau mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
5)   Izinkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman, misalnya, lutut fleksi
       Rasional : Menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control
6)   Berikan   tindakan   nyaman   (misalnya,   pijatan   punggung,   ubah posisi) dan aktivitas senggang.
       Rasional     :  Meningkatkan       relaksasi,   memfokuskan       kembali perhatian    dan   meningkatkan      kemampuan       koping.    Bersihkan area   rectal   dengan   sabun   ringan   dan   air/lap   setelah   defekasi dan    memberikan       perawatan     kulit,   misalnya    salep,   jel/jeli minyak.
4.   Gangguan   eliminasi   :   Diare   berhubungan   dengan   inflamasi,   iritasi,   atau  malabsorbsi usus, adanya toksin, adanya penyempitan segmentasi lumen
a.  Tujuan:     Selama    dalam     keperawatan     kebutuhan      eliminasi   pasien dapat            terpenuhi
b.  Intervensi:
1)  Observasi frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah
       Rasional: membantu mengukur cairan   yang hilang dan  cairan yang akan dibutuhkan.
2)    Dorong     diet   tinggi  serat/bulk    dalam   batasan    diet,  denngan masukan cairan sedang sesuai diet yang dibuat.
       Rasional: Meningkatkan konsistensi Fases.Meskipun cairan perlu  untuk  fungsi     tubuh  optimal,  kelebihan cairan
3)    Batasi masukan lemak sesuai indikasi.
       Rasional:   Diet   rendah   lemak   menurunkan   risiko   faces   cairan dan membatasi efek laksatif penurunan absorbsi lemak.
4)    Bantu   perawatan   peringeal     sering,   gunakan     salep    sesuai  indikasi. Berikan rendam pada pusaran air.
       Rasional:   Iritasi   anal,   ekskorisasi   dan   pruritus   terjadi   karena diare. Pasien sering tak dapat mencapai area yang tepat untuk membersihkan dan dapat   membuat      malu untuk  meminta bantuan mempengaruhi diare.
5.  Gangguan eliminasi  :  konstipasi    berhubungan   dengan    penurunan peristaltik usus
a.  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan    keperawatan  diharapkan  konstipasi tidak terjadi b.  Intervensi :
1)   Kaji pola BAB pasien.
       Rasional   :  Untuk mengetahui pola BAB pasien.
  2)    Pantau dan catat BAB setiap hari.
  Rasional  : Mengetahui  konsistensi   dari    feses    dan  perkembangan pola BAB            pasien.
  3)    Pertahankan intake cairan 2-3 liter / hari.
Rasional: Memenuhi kebutuhan  cairan  dan   membantu memperbaiki   konsistensi feses.
4)   Kolaborasi   dengan   ahli   gizi   pemberian   diet   tinggi   serat   tapi rendah lemak.
Rasional : Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorbsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal.
5)    Kolaborasi     dengan     dokter   untuk   pemberian      obat  pencahar.
       Rasional     :  Obat    itu  untuk    melunakkan      feses   yang    keras sehingga pasien dapat defekasi dengan mudah.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Tifoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.gejala klinis yang timbul biasanya demam lebih dari satu minggu,lidah kotor,mual muntah,diare,lemas,pusing,sakit perut dan lain-lain.Pemeriksaan penunjang yang dapat di lakukan yaitu Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap Pemeriksaan SGOT dan SGPT Pemeriksaan Uji Widal . sedangkan penata laksanaannya adalah dilakukan diet,perawatan, dan obat-obatan anti biotik

Daftar Pustaka
1.Arif Mansjoer, Suprohaitan, Wahyu Ika W, Wiwiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Penerbit      Media Aesculapius. FKUI Jakarta. 2000.
2. Arjatmo Tjokronegoro & Hendra Utama. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke     Tiga. FKUI. Jakarta. 1997.
3. Behrman Richard. Ilmu Kesehatan Anak. Alih bahasa: Moelia Radja Siregar & Manulang.       Editor: Peter Anugrah. EGC. Jakarta. 1992.
4. Joss, Vanda dan Rose, Stephan. Penyajian Kasus pada Pediatri. Alih bahasa Agnes Kartini.    Hipokrates. Jakarta. 1997.
5. Ranuh, Hariyono dan Soeyitno, dkk. Buku Imunisasi Di Indonesia, edisi pertama. Satgas        Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. 2001.
6.  Samsuridjal Djauzi dan Heru Sundaru. Imunisasi Dewasa. FKUI. Jakarta. 2003.
7. Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. EGC. Jakarta. 1998.
8. Soegeng Soegijanto. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba Medika. Jakarta. 2002.
9.  Suriadi & Rita Yuliani. Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. CV Sagung Seto. Jakarta. 2001.


                  
                                                                  








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas kunjungannya..
semoga bermanfaat.. :)