Kamis, 23 Mei 2013

Gangguan Alam Perasaan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruh seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Menurut Stuart (2006), alam perasaan adalah perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehifupan seseorang. Gangguan alam perasaan ditandai oleh sindroma depresif sebagian atau total dan ditandai engan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Gangguan alam perasaan depresi dapat disebabkan karena ketidakseimbangan elektrolit yaitu, natrium dan kalium di dalam neuron (gibbsons, 1960) di kutip dari Townsend, M.C 1995). Neurotransmitter yang ada di system syaraf pusat dan perifer juga memiliki implikasi pada psikiatrik. Transmisi monoamin seperti neropinefrin, dopamine dan serotonin berimplikasi pada etiologi gangguan emosi tertentu seperti gangguan alam perasaan: depresi dan mania. Norepinefrin dan dopamine mempunyai implikasi menurunkan derajat depresi dan meningkatkan derajat mania sedangkan serotonin memiliki implikasi menurunkan kadar depresi (Suliswati,2005).
Dari penjelasan di atas penting untuk kita ketahui mengenai terjadinya mania oleh karena mania memiliki psikopatologi yang tidak jauh berbeda dengan depresi, sehingga berdasarkan uraian-uraian di atas, dalam makalah ini akan dibahas mengenai konsep dasar asuhan keperawatan dengan gangguan alam perasaan (mania) untuk menunjang pembelajaran pada sistem neurobehavior II yang akan berguna dalam melakukan asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan.


1.2.       Rumusan Masalah
1.2.1.           Apa definisi dari gangguan alam perasaan ?
1.2.2.           Apa saja Klasifikasi gangguan alam perasaan?
1.2.3.           Apa Etiologi dari gangguan alam perasaan ?
1.2.4.           Bagaimana Patofisiologi dari gangguan alam perasaan?
1.2.5.           Apa saja Manifestasi klinis dari gangguan alam perasaan
1.2.6.           Bagaimana Penatalksanaan Medis dari gangguan alam perasaan?
1.2.7.           Bagaimana Pencegahan dari gangguan alam perasaan?
1.2.8.           Apa saja Komplikasi dari gangguan alam perasaan ?
1.2.9.           Bagaimana Asuhan Keperawatan dari gangguan alam perasaan?

1.3.       Tujuan
1.3.1.           Tujuan Umum
Setelah mengikuti seminar tentang gangguan alam perasaan ini peserta diharapkan mampu untuk mengetahui, melaksanakan dan memahami gangguan alam perasaan beserta asuhan keperawatannya
1.3.2.           Tujuan Khusus
a.       Mengetahui definisi gangguan alam perasaan.
b.      Mengetahui etiologi gangguan alam perasaan.
c.       Mengetahui patofisiologi gangguan alam perasaan.
d.      Mengetahui manifestasi klinis gangguan alam perasaan.
e.       Mengetahui pemeriksaan diasnotik gangguan alam perasaan
f.       Mengetahui penatalaksanaan gangguan alam perasaan.
g.      Mengetahui komplikasi gangguan alam perasaan..
h.      Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan.

1.4.       Manfaat
1.4.1.           Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan penyebabserta upaya pencegahan gangguan alam perasaan terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
1.4.2.           Diharapkan bagi pembaca dapat mengetahui tentang gangguan alam perasaan dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit tersebut.
1.4.3.           Diharapkan dalam menambah wawasan dan informasi dalam penanganan gangguan alam perasaan sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan lebih baik.
1.4.4.           Dapat menambah informasi tentang gangguan alam perasaan serta dapat meningkatkan kewas padaan terhadap penyakit tersebut.


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1.       Definisi
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh keperibadiaan dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan ditandai oleh syndrom depresif sebagian atau penuh, selain itu juga ditandai oleh kehilangan minat atau kesenangan dalam aktifitas sehari-hari dan rekreasi.
Gangguan Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi hidup seseorang.
Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan kegembiraan yang berlebihan, arus berpikir yang cepat, mudah tersinggung dan kegiatan motorik meningkat, sehingga menyebabkan energi banyak yang keluar (Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, DEPKES).
Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasan yang meningkat, meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang. Kondisi ini dapat diiringi dengan perilaku yang berlebihan berupa peningkatan kegiatan, banyak bicara, ide-ide yang meloncat, senda gurau, tertawa berlebihan, penyimpangan seksual.
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, keindahan, rasa putus asa dan tidak ber daya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, Sadock, 1998).
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kekecewaan pada alam perasaan, (affective atau mood disorder) yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa (Dadang Hawari, 2001)
Depresi ditandai dengan perasaan sedih yang ber lebihan, murung tidak bersemangat, merasa tak berguna, merasa tak berharga, merasa kosong dan tak ada harapan berpusat pada kegagalan dan bunuh diri, sering disertai ide dan pikiran bunuh diri klien tidak berniat pada pemeliharaan diam dan aktivitas sehari-hari (Budi Anna Kaliat, 1996)
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik dan komponen somatik yang terjadi akibat mengalami kesedihan yang panjang.

2.2.       Klasifikasi
2.2.1.           Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir  komunikasi sosial dan rasa tidak nyaman.
2.2.2.           Depresi Sedang 
a.    Afek
Murung, cemas, kesal, marah, menangis
b.   Proses piker
Perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikas verbal komunikasi non verbal meningkat.
c.    Pola komunikasi
Bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi non verbal meningkat
d.   Partisipasi sosial
Menarik diri tak mau bekerja sekolah, mudah tersinggung


2.2.3.           Depresi Berat 
a.    Gangguan afek
Pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif berkurang
b.   Gangguan proses pikir 
c.    Sensasi somatik dan aktivitas motoric
Diam dalam waktu lama, tiba-tiba hiperaktif, kurang mer awat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan
2.2.4.           Rentang Respon
a.    Reaksi Emosi Adaptif
1)      Respon emosi yang responsif
Keadaan individu yang terbuka mau mempengaruhi dan menyadari perasaannya sendiri dapat beradaptasi dengan dunia internal dan eksternal.
2)      Reaksi kehilangan yang wajar
Reaksi yang dialami setiap orang mempengaruhi keadaannya seperti:
a)      Bersedih
b)      Berhenti kegiatan sehari-hari
c)      Takut pada diri sendiri
d)     Berlangsung tidak lama.
b.   Reaksi Emosi Maladaptif
Merupakan reaksi emosi yang sudah  merupakan gangguan respon ini dapat dibagi 3 tingkatan yaitu :
1)      Supresi
Tahap awal respon maladaptif individu menyangkal perasaannya dan menekan atau menginternalisasi aspek perasaan terhadap lingkungan.

2)       Reaksi kehilangan yang memanjang
Supresi memanjang mengganggu fungsi kehidupan individu.
Gejala : bermusuhan, sedih terlebih, rendah diri.
3)      Mania/ Depresi
Gangguan alam perasaan kesal dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat dan menetap pada individu yang bersangkutan.

2.3.       Etiologi
2.3.1.           Kekecewaan
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah per tama depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan dan keputusasaan.
2.3.2.           Kurang Rasa Harga Diri
Ciri-ciri universal yang lain dari orang yang depresi adalah kurangnya rasa harga diri sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih-lebihkan menjadi ekstrim, karena harapan-harapan yang realistis membuat dia tak mampu merestor  dirinya sendiri hal ini memang benar khususnya pada individu yang ingin segalanya sempur na yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya
2.3.3.           Perbandingan yang tidak adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi
2.3.4.           Penyakit
Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organik contoh individu yang mempunyai penyakit kronis seperti  ca. mamae  dapat menyebabkan depresi.
2.3.5.           Aktivitas Mental yang  Berlebihan
Orang  yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.
2.3.6.           Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak terpenuhi maka terjadilah depresi.
Dapat timbul karena adanya factor predisposisi dan factor presipitasi yaitu:
a.       Faktor Predisposisi
1)      Faktor Genetik
Faktor genetik mengemukakan, transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigote.
2)      Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Freud mengatakan bahwa kehilangan objek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan menyalahkan diri sendiri dan dimunculkan dengan perilaku mania (sebagai suatu mekanisme kompensasi)
3)      Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan, misalnya kehilangan orangtua yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.

4)      Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami mania.
5)      Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa mania merupakan msalah kognitif yang dipengaruhi oleh penilaian terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
6)      Model Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa mania dimulai dari kehilangan kendali diri lalu menjadi aktif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif.
7)      Model Perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya reinforcemant positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
8)      Model Biologis
Mengemukakan bahwa dalam keadaan depresi/mania terjadi perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.  
b.      Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor biologis, psikologis dan sosial budaya.
1)        Faktor Biologis
Meliputi perubahan fisiologis yang disebakan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma, dan ketidakseimbangan metabolisme.
2)        Faktor Psikologis
Meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang dan kehilangan harga diri.
3)        Faktor Sosial Budaya
Meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan pekerjaan.

2.4.       Patofisiologi
Alam perasaan adalah kekuatan/ perasaan hati yang mempengaruhi seseorang dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya ber ada dalam afek yang tidak  stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak per nah sedih, kecewa, takut, cemas, marah dan sayang emosi ini terjadi sebagai kasih sayang  seseorang terhadap rangsangan yang diterimanya dan lingkungannya baik interenal maupun eksternal. Reaksi ini ber variasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai maladaptif.

2.5.       Manifestasi Klinis
2.5.1.           Gejala Fisik  yaitu:
a.       Gangguan tidur,
b.      Kelesuan fisik,
c.       Hilangnya nafsu makan dan
d.      Penyakit fisik yang ringan.
2.5.2.           Gejala Emosional  yaitu:
a.       Kehilangan kasih sayang,
b.      Kesedihan,
c.       Hilangnya kekuatan,
d.      Hilangnya konsentrasi,
e.       Rasa bersalah,
f.       Permusuhan dan
g.      Hilangnya harapan.
2.5.3.      Perilaku
Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikofisiologikal yang tinggi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.

Afektif
Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.
Kognitif
Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan, gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
Tingkah laku
Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable, berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.

2.5.4  Mekanisme koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini dilakukan untuk menghindari tekanan yang hebat. Pada depresi mekanisme koping yang digunakan adalah represi, supresi, mengingkari dan disosiasi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.

2.6.       Pencegahan
2.6.1.      Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah hati. Jangan pernah untuk menyimpan sendiri beban hidup kita. Karena hal ini dapat memperburuk depresi yang sdah dialami mapun dapat mengakibatkan depresi
2.6.2.      Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih baik, hal ini dapat mengalihkan perhatian kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari masalah tetapi labih cenderung menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap untuk menghadapinya lagi nanti.
2.6.3.      Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi. Hilangkan kata “seandainya saya…” dalam hidup kita
2.6.4.      Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial, kegiatan tersebut membuat kita lebih jarang melamun
2.6.5.      Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan hati kita gembira karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari menyalahkan diri sendiri
2.6.6.      Jangan banyak berpengharapan
2.6.7.      Berpikir positif
2.6.8.      Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat menjauhkan diri kita dari depresi

2.7.       Pengobatan
2.7.1.      Litium karbonat, sebuah obat antimatik, adalah obat pilihan untuk klien yang menderita gangguan bipolar.
2.7.2.      Pengobatan antipsikotik digunakan untuk klien yang menderita hiperaktivitas hebat dan untuk menangani perilaku manik.
2.7.3.      Antikonvulsan kadang-kadang diberikan karena keefektifannya dalam antimanik.
2.7.4.      Pengobatan antiansietas, misalnya klonazepam (klonopin) dan lotazepam (Antivan), kadang-kadangdigunakan untuk klien yang menderita episode manik akut dan untuk klien yang sulit ditangani.
2.7.5.      Kombinasi litium antikonvulsan sudah digunakan untuk gangguan bipolar siklus cepat,
Tiga fase penatalaksanaan farmakologis yang digambarkan dalam panel Pedolaman Depresi adalah fase akut, fase lanjut, dan fase pemeliharaan. Dalam fase akut gejalanya ditangan, dosis obat dsisesuaikan untuk mencegah efek yang merugikan, dan klien diberikan penyuluhan.pada fase lanjut klien dimonitor pada dosis efektif untuk mencegah terjadinya kambuh. Pada fase pemeliharaan, seorang klien yang berisiko kambuh seringkali tetap diberi obat baahkan selama waktu remisi. Untuk klien yang dianggap tidak berisikotinggi mengalami kambuh, pengobatan dihentikan.
a.       Selsctive serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) terbukti sudah sangat berguna untuk menangani depresi, terutama karena obat tersebut lebih sedikit memiliki efek antikolinergik yang merugikan, lebih sedikit toksisitas jantung, dan reaksi lebih cepat daripada antidepresan trisiklik dan inhibitor oksidase monoamin (MAO)
b.      Trisiklik dan inhibitor MAO, generasi pertama antidepresan, jarang digunakan sejak adanya SSRI dan SSRIs atipikal.
c.       Antipsikotik kadang-kadang digunakan untuk menangani gangguan tidur dan ansietas sedang.
d.      Dokter dapat memprogramkan, tetapi elektrokonvulsif (ECP) jika terdapat depsresi hebat, klien sangat ingin mealkukan bunuh diri, atau jika klien tidak berespon terhadap protokol pengobatan antidepresan.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
 GANGGUAN ALAM PERASAAN

3.1.       Pengkajian
3.1.1.           Faktor predisposisi
a.       Faktor genetic, mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan.
b.      Teori agresi berbalik pada diri sendiri, mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang yang dialihkan pada diri sendiri. Freud mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan menyalahkan diri sendiri.
c.       Teori kehilangan, berhubungan dengan factor perkembangan misalnya kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis denagn orang yang sangat dicintai, individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.
d.      Teori kognitif, mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian diri, yaitu penilaian negatif terhadap diri, sehingga terjadi gangguan proses pikir. Individu menjadi pesimis dan memandang dirinya tidak adekuat dan tidak berharga serta hidup sebagai tidak harapan.
e.       Model belajar ketidakberdayaan, mengemukakan bahwa depresi terjadi karena individu mempunyai pengalaman kegagalan-kegagalan, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Akhirnya timbul keyakinan individu akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupannya sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respons yang adaptif.
f.       Model perilaku, mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya penguatan positif selama bereaksi dengan lingkungan.
g.      Model biologis, mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.
3.1.2.           Faktor Presipitasi
Ada lima stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan:
a.       Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan, termasuk kehilangan cinta seseorang, fungsi tubuh, status atau harga diri.
b.      Kejadian penting dalam kehidupan seseorang sebagai keadaan yang mendahului episode depresi dan mempunyai dampak pada masalah saat ini dan kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah.
c.       Banyaknya peran dan komplik peran, dilaporkan mempengaruhi berkembangnya depresi, terutama pada wanita.
d.      Sumber koping termasuk status social ekonomi, keluarga, hubungan inter personal dan organisasi kemasyarakatan. Kurangnya sumber pendukung social, menambah stress individu.
e.       Ketidak seimbangan metabolisme dapat menimbulkan gangguan alam perasaan. Khususnya obat-obatan anti hipertensi dan gangguan zat adiktif. Kebanyakan penyakit kronis yang melemahkan sering disertai depresi. Depresi pada usia lanjut akan menjadi komplek jika disertai kerusakan organic dan gejala depresi secara klinik.
3.1.3.           Mekanisme koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini dilakukan untuk menghindari tekanan yang hebat. Pada depresi mekanisme koping yang digunakan adalah represi, supresi, mengingkari dan disosiasi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan karena kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.
3.1.4.           Perilaku
Perilaku yang berhubungan dengan mania dan depresi bervariasi. Gambaran utama dari mania adalah perbedaan intensitas psikologikal yang tinggi. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi.
Perilaku yang berhubungan dengan depresi (Stuart & Sundeen, 1995 hal. 215)
Afektif
Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.
Kognitif
Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan, gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
Tingkah laku
Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable, berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.

3.2.       Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respon emosional adalah
3.2.1.           Ketidakberdayaan
3.2.2.           Berduka disfungsional
3.2.3.           Keputusasaan
3.2.4.           Resiko tinggi terhadap cedera
3.2.5.           Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3.2.6.           Defisit perawatan diri
3.2.7.           Gangguan pola tidur
3.2.8.           Resiko mencederai diri

3.3.       Diagnosa Keperawatan
3.3.1.           Resiko tinggi mencedrai diri berhubungan dengan harga diri rendah, koping individu tidak efektif.
3.3.2.           Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan selera makan.



3.4.       Perencanaan
No
Tujuan Umum :
Setelah tindakan perawatan diterapkan, klien dapat berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta senang yang dapat diterima oleh lingkungan.
Tujuan Khusus
Rasionalisasi
Tindakan
1



Klien terlindungi dari dari upaya mencederai diri sendiri atau bunuh diri.
Klien dengan gangguan alam perasaan berat berada dalam resiko tinggi untuk melakukan bunuh diri
·   Rawat klien dirumah sakit bila ada resiko bunuh diri yang tinggi
2
Klien mampu mengembangkan diri
Perubahan lingkungan dapat melindungi klien, mengurangi stress dan memberikan sumber pengembangan baru
·   Secara terus menerus evaluasi klien terhadap kemungkinan melakukan bunuh diri
·   Bantu klien untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
3
Klien mampu membina hubungan terapeutik dengan perawat .
Klien depresi biasanya enggan terlibat dalam hubungan terapeutik. Diperlukan cara agar klien dapat menerima dan bertahan dalam hubungan terapeutik.
·   Lakukan pendekatan yang hangat, menerima klien apa adanya dan bersifat empati
·   Mawas diri dan dapat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya rasa marah, frustasi dan empat)
4
Klien mampu mengenali dan mengekspresikan emosinya
Klien depresi mempunyai kesul;itan dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaannya.
·   Tunjukkan respon emosinal dan menerima klien
·   Gunakan kemampuan berkomunikasi.
·   Berikan respon empati dengan berfokus pada perasaan bukan pada kenyataan yang terjadi.
·   Mengaku kesedihan klien dan berikan harapan
·   Bantu klien untuk mengekspresikan perasaannya.
·   Bantu klien untuk mengekspresikan perasaan marahnya dengan tepat
·   Bantu klien untuk menurunkan tingkat kecemasannya :
1.Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif.
2.Beri waktu untuk klien berespon.
3.Beri perawatan individu sebagai manusia layaknya.
5
Klien mampu memodifikasi pola kognitif yang negatif
Memodifi memodifikasi pola kognitif yang negatif akan membantu meningkatkan pengendalian diri,  tingkah laku dan perubahan harga diri
·   Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk menyimpulkannya.
·   Identifikasi pemikiran yang negatif dan Bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi.
·   Bantu klien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
·   Evaluasi ketepatan persepsi klien, logika dan kesimpulan yang dibuat klien.
·   Identifikasi persepsi klien yang tidak tepat, penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional
·   Bantu klien untuk dapat merubah tujuan yang tidak realistis ketujuan yang realistis.
·   Kurangi tujuan-tujuan yang tidak mungkin dicapai.
·   Kurangi penilaian klien yang negatif terhadap dirinya.
·   Bantu klien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi.

6
Klien mampu untuk aktif mencapai tujuan yang realistik
Penampilan prilaku yang baik akan mengurangi/menghilangkan perasaan tak berdaya dan putus asa.
·   Beri tanggung jawab untuk melakukan terapi tindakan yang terorientasi.
·   Beri dorongan kepada klien untuk melakukan kegiatan secara teratur atau beri kebebasan melakukan kegiatan sehingga energi klien  dapat disalurkan.
·   Persiapkan program yang dapat dilakukan dengan baik.
·   Tetapkan tujuan yang realistis, relevan dengan kebutuhan klien dan minatnya serta difokuskan pada kegiatan yang positif.
·   Fokuskan kegiatan pada saat ini, bukan kegiatan pada masa lalu atau masa dating
·   Beri pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilannya bagus
·   Pertahankan penampilan atau kegiatan jika mungkin.
·   Buat jadwal exercise fisik dalam rencana keperawatan.
7
Klien mampu untuk melakukan hubungan interpersonal
Sosialisasi akan mengurangi kesempatan untuk menarik diri dan akan meningkatkan harga diri, melalui pemanfaatan dari dukungan lingkunagn yang tepat dan menerima.
·   Kaji kemampuan klien untuk bersosialisasi dan dukungan yang diperlukan serta minat klien
·   Diskusikan sumber social yang ada dan dapat digunaka.
·   Tunjukkan kemampuan bersosialisi yang efektif.
·   Gunakan role play dalam melakukan interaksi social.
·   Beri umpan balik dan pujian terhadap kemampuan klien dalam melakukan hubungan interpersonal yang efektif.
·   Beri dorongan kepada klien untuk meningkatkan hubungan sosialnya dalam lingkungan yang lebih luas.
·   Beri dorongan dengan penuh kekeluargaan terhadap respon emosional klien yang adaptif.
·   Beri dukungan dan libatkan dalam terapi keluarga dan terapi kelompok jika diperlukan.
8
Klien mampu meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya.
Perawatan fisik dan terapi somatic diperlukan untuk mengatasi perubahan fisik yang terjadi karena gangguan alam perasaan
·   Lengkapi pengkajian tentang kesehatan fisiologi klien.
·   Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri terutam kebutuhan nutrisi, dan kebersihan diri.
·   Anjurkan klien untuk dapat melakukan pemenuhan kebutuhan perawatan diri secara mandiri jika memungkinkan.
·   Berikan terapi pengobatan.

3.5.       Evaluasi
3.5.1.           Semua sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali.
3.5.2.           Masalah klien mengenai konsep diri, rasa marah dan hubungan interpersonal dapat digali.
3.5.3.           Perubahan pola tingkah laku dan respon klien tersebut tampak.
3.5.4.           Riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi dapat dievaluasi sepenuhnya.
3.5.5.           Tindakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri telah dilakukan.
3.5.6.           Tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien.
3.5.7.           Reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien.



BAB IV
PENUTUP
4.1.    Kesimpulan
Dari penjelasan di ataas dapat disimpulkan bahwa Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh keperibadiaan dan fungsi kehidupan seseorang.
Gangguan alam perasaan ditandai oleh syndrom depresif sebagian atau penuh, selain itu juga ditandai oleh kehilangan minat atau kesenangan dalam aktifitas sehari-hari dan rekreasi yang di sebabkan oleh.
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah per tama depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan dan keputusasaan.

4.2.    Saran
Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan segala tindakan dalam menangani masalah keperawatan khususnya dalam menangani kasus gangguan alam perasaan.Sehingga memberikan nilai positif yaitu sebagai perawat profesional yang memberikan perawatan secara berkualitas

DAFTAR PUSTAKA

Hawari, D. 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: EGC
Purwaningsih, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta : Nuha Medika
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Defli. 2009. Depresi. http://mklh12depresi.blogspot.com. Last update 09 Mei 2012 pukul 09.03
Fauja. 2012. Askep depresi. http://wwwfaujabamuloputra.blogspot.com. Last update 29 April 2012 pukul 16.12
Anonim. 2011. Konsep dasar klien dengan depresi. http://thefuturisticlovers.wordpress.com. Last update 08 Mei 2012 pukul 20.22
http://desyanablog.blogspot.com/2011/09/keperawatan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terima kasih atas kunjungannya..
semoga bermanfaat.. :)