Selasa, 03 April 2012

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK ENDOKRIN


BAB 1
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK ENDOKRIN

1.1         Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Hipofise
1.1.1        Definisi
Pemeriksaan diagnostik merupakan hal penting dalam perawatan klien di rumah sakit. Tidak dapat dipisahkan dari rangkaian pengobatan dan perawatan. Validitas dari hasil pemeriksaan diagnostik sangat ditentukan oleh bahan pemeriksaan, persiapan klien, alat dan bahan yang digunakan serta pemeriksaannya sendiri. Dua hal pertama menjadi tugas dan tanggung jawab perawat. Oleh karena itu pemahaman perawat terhadap berbagai pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien sangatlah menentukan keberhasilannya. Begitu halnya pada klien yang diduga atau yang menderita gangguan sistem endokrin, pemahaman perawat yang lebih baik tentang berbagai prosedur diagnostik yang lazim sangatlah diharapkan. (Wahyu, 2010)

1.1.2        Persiapan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh perawat
a.    Anamnesa
1.      Data Demografi
a.)    Identitas klien
b.)    Identitas penanggung
c.)    Usia klien
d.)   Jenis kelamin
e.)    Tempat tinggal klien (alamat)
f.)     Tanggal masuk rumah sakit.
2.      Riwayat kesehatan keluarga.
Kaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang dialami klien/pasien atau gangguan secara langsung dengan gangguan hormonal :
a.)  Obesitas : dicurigai karena hipotiroid
b.) Gangguan Tumbang : dicurigai adanya gangguan GH, Kel. Tiroid, dan kelenjar gonad
3.      Riwayat Kesehatan dahulu :
Kaji kondisi yang pernah dialami oleh Keluarga diluar gangguan yang dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung lama karena tidak mengganggu aktivitas, kondisi ini tidak dikeluhkan, seperti :
a.)    Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang : amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang bagi perempuan.
b.)    BB yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus meskipun banyak makan
c.)    Gangguan psikologis seperti mudah marah, sensitif, sulit bergaul dan tidak mudah berkonsentrasi
d.)   penggunaan obat-obatan yang dapat merangsang aktivitas hormonal : hidrokortison, levothyroxine, kontrasepsi oral dan obat antihipertensi.
4.        Riwayat Diet :
Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat mencerminkan gangguan endokrin tertentu, pola dan kebiasaan makan yang salah dapat menjadi faktor penyebab. Oleh karena itu kondisi berikut perlu dikaji :
a.)    Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen.
b.)    Penurunan atau penambahan BB yg drastis.
c.)    Selera makan yg menurun atau bahkan berlebihan.
d.)   Pola makan dan minum sehari-hari.
e.)    Kebiasaan mengkonsumsi makanan yg dapat menggangu fungsi endokrin seperti makanan yg bersift goitrogenik thd tiroid.


5.        Masalah kesehatan sekarang
Pengembangan dari keluhan utama. Fokuskan pertanyaan yang menyebabkan keluarga/pasien meminta bantuan pelayanan, seperti :
a.)  Apa yg dirasakan pasien saat ini
b.) Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan dan sejak kapan dirasakan
c.)  Bagaimana gejala tersebut mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari
d.) Bagaimana pola eliminasi : urine
e.)  Bagaimana fungsi seksual dan reproduksi
f.)  Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sangat menggangu pasien
g.) Hal-hal lain yang perlu dikaji karena berhubungan dengan fungsi hormonal secara umum :
6.        Tingkat Energi :
Perubahan kekuatan fisik dihubangkan dengan sejumlah gangguan hormonal khusunya disfungsi kelenjar tiroid dan adrenal. Kaji kemampuan klien/pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
7.        Pola Eliminasi dan keseimbangan cairan
Pola eliminasi khususnya urine dipengaruhi oleh fungsi endokrin secara langsung oleh ADH, aldosteron, dan kortisol.
8.        Pertumbuhan dan Perkembangan
a.)  Secara langsung tumbang dibawah pengaruh GH, Kelenjar tiroid dan kelenjar gonad. Gangguan tumbang dapat terjadi semenjak dalam kandungan, itu terjadi pada ibu hamil hipertiroid. Kaji gangguan tumbang yang dialami semenjak lahir atau terjadi selama proses pertumbuhan.
b.) Kaji secara lengkap dari penambahan ukuran tubuh dan fungsinya: Tingkat intelegensi, kemampuan berkomunikasi dan rasa tanggung jawab. Kaji juga perubahan fisik dan dampaknya terhadap kejiwaan.
9.        Seks dan reproduksi
Pada wanita kaji siklus menstruasi (lamanya), volume, frekuensi dan perubahan fisik terutama sensasi nyeri atau kram abdomen. Jika bersuami kaji :
a.)  Apakah pernah hamil
b.) Abortus
c.)  Melahirkan
d.) Pada Pria kaji apakah mampu ereksi dan orgasme dan kaji juga apakah terjadi perubahan bentuk dan ukuran alat genitalnya.

b.        Pemeriksaan Fisik
Ada 2 aspek utama yang dapat digambarkan, yaitu :
1.      Kondisi kelenjar endokrin : testis dan tiroid
2.      Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari gangguan endokrin

a.)       Inspeksi :
1.)           Disfungsi sistem endokrin : Menyebabkan perubahan fisik sebagai dampaknya terhadap tumbang, keseimbangan cairan dan elektrolit, seks dan reproduksi, metabolisme dan energi.
2.)           Penampilan umum : Apakah pasien tampak kelemahannya :berat, sedang dan ringan
3.)           Amati bentuk dan proporsi tubuh : Apakah terjadi kekerdilan atau seperti raksasa
4.)           Pemeriksaan Wajah : Fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti dahi, rahang dan bibir
5.)           Pada Mata : Amati adanya edema periorbital dan exopthalamus serta ekspresi wajah tampak datar atau tumpul.
6.)           Pada Daerah Leher : Amati bentuk leher apakah tampak membesar, asimetris, warna kulit sekitar leher apakah terjadi hiper/hipopigmentasi dan amati apakah itu merata.
7.)           Apakah terjadi hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut : Biasanya dijumpai pada orang yang mengalami gangguan kelenjar. Adrenal
8.)           Apakah terjadi Vitiligo atau hipopigmentasi pada kulit : Biasanya tampak pada orang yang mengalami hipofungsi kelenjar adrenal sebagai akibat destruksi melanosit dikulit oleh proses autoimun.
9.)           Amati adanya penumpukan massa otot berlebihan pada leher bagian belakang atau disebut bufflow neck atau leher/punuk kerbau : Terjadi pada K hiperfungsi adrenokortikal.
10.)       Amati keadaan rambut axilla dan dada : Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada dada dan wajah wanita disebut hirsutisme dan amati juga adanya striae pada buah dada atau abdomen biasanya dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal.

b.)      Palpasi
Hanya kelenjar tiroid dan testis yg dapat diperiksa secara palpasi

c.)       Auskultasi :
Auskultasi pada daerah leher diata tiroid dapat mengidentifikasi bunyi " bruit". Bunyi yg dihasilkan karena turbulensi pada Pembuluh darah tiroidea.
d.)      Pengkajian Psikososial
Mengkaji kemampuan koping klien/pasien, dukungan Keluarga serta keyakinan klien/pasien tentang sehat dan sakit. Perubahan-perubahan fisik, fungsi seksual dan reproduksi serta perubahan-perubahan lainnya yang disebabkan oleh gangguan sistem endokrin akan berpengaruh terhadap konsep diri klien.

1.1.3        Foto tengkorak (kranium)
Dilakukan untuk melihat kondisi sella tursika. Dapat terjadi tumor atau juga atropi. Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara khusus, namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting. (Pranata, 2012)

1.1.4        Foto tulang osteo
Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran tulang yang bertambah besar dari ukuran maupun panjangnya. Pada akromegali akan dijumpai tulang-tulang perifer yang bertambah ukurannya ke samping. Persiapan fisik secara khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan. (Wahyu, 2010)

1.1.5        CT Scan otak
Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atau hipotalamus melalui komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam tidak bergerak selama prosedur. (Wahyu, 2010)














1.1.6        Pemeriksaan Darah dan Urin
a.       Kadar  Growth Hormon
Nilai normal 10 p.g ml baik pada anak dan orang dewasa. Pada bayi dibulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 cc. Persiapan khusus secara fisik tidak ada.
b.      Kadar Tiroid Stimulating Hormon (TSH)
Nilai normal 6-10 1.1.g/ml. Dilakukan untuk menentukan apakah gangguan tiroid bersifat primer atau sekunder. Dibutuhkan darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan secara khusus.
c.       Kadar Adrenokartiko Tropik (ACTH)
Pengukuran dilakukan dengan test supresi deksametason. Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urine 24 jam.
Persiapan
1.      Tidak ada pembatasan makan dan minum
2.      Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol atau antagonisnya dihentikan lebih dahulu 24 jam sebelumnya.
3.      Bila obat-obatan harus diberikan, lampirkan jenis obat dan dosisnya pada lembaran pengiriman spesimen
4.      Cegah stres fisik dan psikologis


Pelaksanaan
1.      Klien diberi deksametason 4 x 0,5 ml/hari selama-lamanya dua hari
2.      Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc
3.      Urine ditampung selama 24 jam
4.      Kirim spesimen (darah dan urine) ke laboratorium.

Hasil Normal bila :
1.      ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl
2.      17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17-OHCS) dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg.

Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametasaon 1 mg per oral tengah malam, baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urine ditampung selama 5 jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dl dan eksresi 17 OHCS dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg. (Wahyu, 2010)

1.2         Pemerinsaan Diagnostik pada Kelenjar Tiroid
1.2.1        Up take radioaktif
Tujuan Pemeriksaan adalah untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap iodida.
a.       Persiapan :
1.      Klien puasa 6-8 jam
2.      Jelaskan tujuan danm prosedur
b.      Pelaksanaan
1.      Klien diberi Radioaktoif Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri.
2.      Dengan alat pengukur yang ditaruh diatas kelenjar tiroid diukur radioaktif yang tertahan.
3.      Juga dapat diukur clearence I131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urine selama 24 jam dan diukur kadar radioaktiof jodiumnya.
Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai berikut:
1.        Normal: 10-35%
2.        Kurang dari: 10% disebut menurun, dapat terjadi pada hipotiriodisme.
3.      Lebih dari: 35% disebut meninggi, dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertiroidisme. (Wahyu, 2010)











1.2.2        T3 dan T4 serum
1.        Persiapan khusus tidak ada, specimen darah 5 cc
2.        Normal Dewasa : Jodium bebas  : 0,1-0,6 mg/dl
3.        T3 : 0,2 - 0,3 mg/dl
4.        T4 : 6 – 12 mg/dl
5.        Normal bayi : T3 : 180 – 240 mg/dl(Wahyu, 2010)











1.2.3        Up Take T3 Resin
Tujuan mengukur jumlah hormon tiroid (T3) atau thyrcid binding globulin (TBG) tak jenuh. TBG meningkat pada hippertirodisme menurun pada hipotiroidisme
1.        Spesimen darah vena 5cc
2.        Persiapan: puasa 6-8 jam
3.        Nilai normal :
a.       Dewasa : 25-35% uptake oleh resin
b.      Anak : umumnya tidak ada(Wahyu, 2010)














1.2.4        Protein Bound Iodine (PBI)
Bertujuan mengukur Iodium yang terikat dengan protein plasma. Nilai normal 4-8 mg% dalam 100 ml darah. Specimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan 6-8 jam. (Wahyu, 2010)
1.2.5        Laju metabolisme basal
Tujuan: pengukuran secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan di bawah kondisi basal selama beberapa waktu
a.       Persiapan :
1.      Klien puasa 12jam
2.      Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress
3.      Klien harus tidur sedikit nya 8 jam
4.      Tidak mengkonsumsi analgetik & sedative
5.      Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaandan prosedur nya
6.      Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan di lakukan
b.      Penatalaksanaan
1.      Pengukuran kalorimetri dengan menggunakan metabolator
c.       Nilai normal :
1.      pria 53 kalori perjam
2.      wanita 60 kalori perjam
d.      Metode Harris Benedict Untuk Mengukur BMR
1.      Pria:BMR = 66 + (13,7 x BB(kg) ) + ( 5 x TB(cm) ) +(6,8 x U(thn) )
2.      Wanita BMR = 665 + (9,6 x BB(kg) + (1,8 x TB (cm) ) + (4,7 x U (thn) ) (Nurnarlitasari, 2011)

1.2.6        Scaning tiroid
a.      Radio loding scanning
Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin (berfungsi atau tidak berfungsi). Nodul panas menyebabkan hipersekresi jarang bersifat ganas. Sedangkan nodul dingin (20%) adalah ganas
b.      Uptake iodine
1.      Untuk menentukan pengambilan yodium dari plasma
2.      Nilai normal 10-30% dalam 24jam









1.3         Pemerinsaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid
1.3.1        Percobaan Sulkowitch
Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit one white cloud) menunjukkan kadar kalsium darah normal (6 ml/d1). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi.
a.         Persiapan
1.      Urine 24 jam ditampung
2.      Makanan rendah kalsium 2 hari herturut-turut
b.        Pelaksanaan
1.      Masukkan urine 3 ml ke dalam tabung (2 tabung)
2.      Kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol


c.         Pembacaan hasil secara kwantitatif :
1.      Negatif (-): Tidak terjadi kekeruhan
2.      Positif (+): Terjadi kekeruhan yang halus
3.      Positif (+ +): Kekeruhan sedang
4.      Positif (+ + +): Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik
5.      Positif (+ + + +): Kekeruhan hebat, terjadi seketika

1.3.2        Percobaan Ellworth-Howard
Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh parathormon.
a.         Cara Pemeriksaan
1.      Klien disuntik dengan paratharmon melalui intravena kemudian urine di-tampung dan diukur kadar pospornya. Pada hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai 5-6 x nilai normal.
2.      Urin ditampung dan diukur kadar fosfatnya.
b.        Pada hiperparatiroid, diuresis pospornya tidak banyak berubah

1.3.3        Percobaan kalium intra vena
Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukan paratharmon. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurang. Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. Pada hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis meningkat.

1.3.4        Pemeriksaan radiologi
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang meni-pis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.

1.3.5        ECG
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran EKG akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q-T mungkin normal.

1.3.6        EMG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus tidak ada.









1.4         Pemerinsaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas
1.4.1        Definisi
a.      Pemeriksaan Glukosa
Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam
Nilai normal :
1.      Dewasa: 70-110 md/d1 Bayi: 50-80 mg/d
2.      Anak-anak: 60-100 mg/dl
1.4.2        Persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan perawat
a.       Persiapan
1.      Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan
2.      Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan
b.      Pelaksanaan
1.      Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc
2.      Gunakan anti koagulasi bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera
3.      Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan
4.      Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obatobatan sesuai program.

Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien.
Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu diingat waktu yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang mendapat obat-obatan sementara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.






1.5         Pemerinsaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal
1.5.1        Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah
a.       Nilai normal pada:
1.      Dewasa wanita: 37-47% Pria: 45-54%
2.      Anak-anak: 31-43%
3.      Bayi: 30-40%
4.      Neonatal: 44-62%
b.      Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena. Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan.
1.5.2        Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K , CI), dengan nilai normal:
a.       Natrium: 310-335 mg (13,6-14 meq/liter) Kalium: 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter) Chlorida: 350-375 mg% (100-106 meq/liter)
b.      Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan hiperkalemia. Tidak diperlukan persiapan fisik secara khusus.
1.5.3        Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)
Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus.
1.5.4        Stimulasi Test
Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan menedeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium